Sobat Kabar timika Papua , yang semoga dalam lindungan Tuhan yang maha Esa. Kabar timika hadir untuk memberikan seputar topik dan informasi terhangat yang ada di Nusantara umumnya dan khususnya buat warga Papua dan sekitarnya. Berbagai topik dan isi kami sajikan yang mana semoga dapat memberikan pencerahan bagi semuanya. Dan jika kita lihat persoalan tantang Mengenang Kembali Banjir Wasior Akibat Rusaknya Hutan Oleh Tangan Manusia, yang baru-baru ini ramai dibicarakan oleh media sosial dan media masa.Kami mencoba untuk mengulasnya disini.
Yang kami harap berdasarkan fakta dan data mengenai Mengenang Kembali Banjir Wasior Akibat Rusaknya Hutan Oleh Tangan Manusia kita bisa mengambil poko inti persoalan yang terjadi tanpa mengedepankan emosi semata.mari kita lihat dari dua sisi yang berbeda baik itu baik dan buruknya. Dan mari kita ambil dan selesaikan dengan jalan yang bisa diterima masyarakat. Akhir-akhir ini pokok perbincangan Mengenang Kembali Banjir Wasior Akibat Rusaknya Hutan Oleh Tangan Manusia mulai memanas disemua kalangan. Dan kadang malah melupakan poko persoalan yang masih menjadi PR kita semua yaitu kesejahteraan masyarakat banyak.
Bumi papua tidak seperti wilaayah Jakarta yang begitu pongah dan mewah, Di bumi papua kami hidup dengan dami dan penuh dengan keharmonisan. Namun terkdang kami iri dengan kota Jakarta yang serba mewah dan mudah,kami warga papua untuk menjangkau wilayah satu dengan wilayah lain saja masih sedikit sulit belum lagi persoalan ksehatan,pendidikanya. Dan semoga dengan adanya pembangunan infrastruktur baru semuanya bisa mudah seperti Jakarta.
HarianPapua.com – Tanggal 4 Oktober 2010 masuk dalam catatan sejarah Papua ketika banjir bandang menerjang Distrik Wasior yang terletak di Kabupaten Teluk Wondama, Provinsi Papua Barat.
Hujan lebat yang membasahi Distrik Wasior selama dua hari berturut-turut membuat Sungai Batang Salai yang berhulu di Pegunungan Wondiwoy meluap dan menyebabkan banjir bandang yang merusak beberapa fasilitas utama seperti rumah sakit, jembatan dan rumah ibadah (Gereja) hancur.
Rusaknya fasilitas utama dikarenakan banjir yang besar turut membawa bebatuan besar, batang-batang pohon yang disertai lumpur yang mana turut merusak fasilitas komunikasi, putusnya jaringan listrik dan melumpuhkan aktifitas warga.
Selain itu, salah satu faktor terbesar banjir bandang yang terjadi di Distrik Wasior tersebut adalah rusaknya hutan yang menjadi pelindung air ketika datangnya hujan.
Catatan statistik membuktikan sebanyak 158 orang dinyatakan meninggal dunia dan 145 lainnya hingga saat ini masih dalam status ‘hilang’.
Sementara itu, para korban luka berat dibawa langsung menuju Kabupaten Manokwari dan Nabire untuk mendapatkan perawatan langsung. Sebagian warga juga memilih untuk mengungsi untuk sementara waktu di Kabupaten Manokwari menggunakan fasilitas kapal laut akibat rusaknya infrastruktur dan rumah warga setempat.
Pengalaman Adalah Guru Terbaik
Belajar dari Banjir Wasior, masyarakat diharapkan untuk terus melestarikan hutan sebagai pelindung air. Bersahabat dengan alam membuat kita mengerti siklus kehidupan tentang arti saling ‘melindungi’
Bangkitlah Wasior…
Mengenang Kembali Banjir Wasior Akibat Rusaknya Hutan Oleh Tangan Manusia
0 Response to "Mengenang Kembali Banjir Wasior Akibat Rusaknya Hutan Oleh Tangan Manusia"
Post a Comment