Sobat Kabar timika Papua , yang semoga dalam lindungan Tuhan yang maha Esa. Kabar timika hadir untuk memberikan seputar topik dan informasi terhangat yang ada di Nusantara umumnya dan khususnya buat warga Papua dan sekitarnya. Berbagai topik dan isi kami sajikan yang mana semoga dapat memberikan pencerahan bagi semuanya. Dan jika kita lihat persoalan tantang Penenun Ulos di Balige Kekurangan Modal, yang baru-baru ini ramai dibicarakan oleh media sosial dan media masa.Kami mencoba untuk mengulasnya disini.
Yang kami harap berdasarkan fakta dan data mengenai Penenun Ulos di Balige Kekurangan Modal kita bisa mengambil poko inti persoalan yang terjadi tanpa mengedepankan emosi semata.mari kita lihat dari dua sisi yang berbeda baik itu baik dan buruknya. Dan mari kita ambil dan selesaikan dengan jalan yang bisa diterima masyarakat. Akhir-akhir ini pokok perbincangan Penenun Ulos di Balige Kekurangan Modal mulai memanas disemua kalangan. Dan kadang malah melupakan poko persoalan yang masih menjadi PR kita semua yaitu kesejahteraan masyarakat banyak.
Baca juga:
Bumi papua tidak seperti wilaayah Jakarta yang begitu pongah dan mewah, Di bumi papua kami hidup dengan dami dan penuh dengan keharmonisan. Namun terkdang kami iri dengan kota Jakarta yang serba mewah dan mudah,kami warga papua untuk menjangkau wilayah satu dengan wilayah lain saja masih sedikit sulit belum lagi persoalan ksehatan,pendidikanya. Dan semoga dengan adanya pembangunan infrastruktur baru semuanya bisa mudah seperti Jakarta.
 |
| KENAKAN ULOS DAN SORTALI: Wakil Ketua DPD RI GKR Hemas, penggiat ulos Dra Catherine Sitorus MPd yang mengenakan ulos karya Artha Textil Riama Panjaitan dari Balige, Ketua Umum Panitia Hari Ulos ke-2 2016 Enni Martalena Pasaribu, unsur panitia dari Jakarta Purnama Sitompul mengenakan ulos dan sortali di jeda peringatan Hari Ulos ke-2 tahun 2016 di Medan, Senin, (17/10). |
BeritaSimalungun.com, Medan-Pengelola Artha Textil Riama Panjaitan dari Balige mengeluhkan pasokan bahan baku dan bantuan modal. Perempuan yang karya ulosnya pernah dipakai Presiden Joko Widodo dan Wakil Presiden Jusuf Kalla saat berkunjung ke Sumut itu mengatakan, modal lebih banyak diperlukan ketika order datang maksimal.
"Bank Mandiri Balige sudah memfasilitasi kredit, tapi partonun dan pihak industri rumahan ulos berharap kredit di industri kreatif beroleh keringanan lebih karena yang dikerjakan tak sekadar menggerakkan perekonomian desa tapi melestarikan warisan budaya yang mengharumkan bangsa," ujarnya didampingi penggiat ulos Dra Catherine Sitorus MPd dan novelis Tunggul Sitorus MPd di jeda peringatan Hari Ulos ke-2 tahun 2016 di Medan, Senin (17/10).
Riama Panjaitan mengatakan, Artha Textil mengerjakan seluruh order dari pihak luar baik ulos tenun maupun pabrikan. "Yang pabrikan, cenderung diorder dari luar Sumut. Daerah Jawa adalah market yang menggembirakan.
Untuk pasar demikian, ulos produk Artha Textil lebih menyesuaikan dengan pasar, baik dari motif sesuai tren nasional dan global maupun kualitas," jelasnya sambil mengatakan untuk ulos tenun pun disesuaikan dengan permintaan konsumen.
Ia menjelaskan, meski agak ribet mengerjakan ulos tenun namun permintaan tinggi oleh komunitas luar Batak yang memahami adibusana dari tenunan. Untuk ulos pabrikan, lanjutnya, diminta oleh konsumen luar Batak yang menyenangi motif ulos. "Diperlukan kreasi yang luas," tegas Riama Panjaitan.
Mengenai permintaan dari luar Sumut, ujarnya, pihaknya memasok bahan baku dari luar seperi Bandung dan Surabaya yang kualitasnya lebih bagus ketimbang yang ada di Sumut. Kadang, karena bahan baku terbatas, ujarnya, membuat pihaknya sulit memroduksi sesuai permintaan.
"Soalnya, ketika mendapat order dari luar, didahului tender terbuka yang berkompetisi dengan pihak luar," paparnya sambil mengatakan yang diorder cenderung seragam.
Tentang permodalan, pinta Riama Panjaitan, pihaknya ingin mendapat prioritas lebih. Selain alasan misi idealis dalam berkarya, bunga lunak diperlukan untuk memberi ruang yang lebih luas. "Itulah alasan mengapa partonun ingin lebih diperhatikan soal permodalan dan bahan baku," jelasnya.
Di peringatan hari ulos 2016 itu, Riama Panjaitan sempat menitip ulos yang dijadikan syal pada Gubsu Ir HT Erry Nuradi dan tali-tali hasil kreativitas tangannya langsung.
Di Kegiatan itu, Pimpinan YP Methodist 12 Marendal Dra Catherine Margareth Sitorus MPd dan Guru Methodist 2 Medan Theresiani Siahaan minta Gubsu mengeluarkan intruksi atau sejenis peraturan di mana ekstrakurikuler SMA adalah bertenun.
"Tidak hanya bertenun ulos. Bisa songket. Atau apalah yang menjadi produk unggulan Sumut dalam hal tenun," ujar guru PPKN yang menggiring puluhan siswanya ke arena kegiatan. "Dari ulos ini ada idealisme keindonesiaan.
Kebetulan sebagaian besar siswa saya kan etnis Tionghoa yang butuh sentuhan etnik," papar Theresiani Siahaan. (SIB)
0 Response to "Penenun Ulos di Balige Kekurangan Modal"
Post a Comment