Sobat Kabar timika Papua , yang semoga dalam lindungan Tuhan yang maha Esa. Kabar timika hadir untuk memberikan seputar topik dan informasi terhangat yang ada di Nusantara umumnya dan khususnya buat warga Papua dan sekitarnya. Berbagai topik dan isi kami sajikan yang mana semoga dapat memberikan pencerahan bagi semuanya. Dan jika kita lihat persoalan tantang Terbuai Kekayaan Alam, Negara Pasifik Ini Sekarang Jatuh Miskin, yang baru-baru ini ramai dibicarakan oleh media sosial dan media masa.Kami mencoba untuk mengulasnya disini.
Yang kami harap berdasarkan fakta dan data mengenai Terbuai Kekayaan Alam, Negara Pasifik Ini Sekarang Jatuh Miskin kita bisa mengambil poko inti persoalan yang terjadi tanpa mengedepankan emosi semata.mari kita lihat dari dua sisi yang berbeda baik itu baik dan buruknya. Dan mari kita ambil dan selesaikan dengan jalan yang bisa diterima masyarakat. Akhir-akhir ini pokok perbincangan Terbuai Kekayaan Alam, Negara Pasifik Ini Sekarang Jatuh Miskin mulai memanas disemua kalangan. Dan kadang malah melupakan poko persoalan yang masih menjadi PR kita semua yaitu kesejahteraan masyarakat banyak.
Bumi papua tidak seperti wilaayah Jakarta yang begitu pongah dan mewah, Di bumi papua kami hidup dengan dami dan penuh dengan keharmonisan. Namun terkdang kami iri dengan kota Jakarta yang serba mewah dan mudah,kami warga papua untuk menjangkau wilayah satu dengan wilayah lain saja masih sedikit sulit belum lagi persoalan ksehatan,pendidikanya. Dan semoga dengan adanya pembangunan infrastruktur baru semuanya bisa mudah seperti Jakarta.
HarianPapua.com – Ada yang tahu siapa negara terkecil yang terletak di tengah samudera pasifik? Sebagian orang tidak banyak yang mengenal Nauru, sebuah negara kepulauan terkecil di tengah Samudera Pasifik. Jika kita melihat ke peta dunia, negara ini begitu kecil sehingga tak kelihatan di peta.
Negara ini hanya memiliki luas 21 km2. Sebagai perbandingan dengan luas Kota Jayapura yang berukuran 936 km2, dan dimasukan ke dalam persentase angka, luas Nauru bahkan tidak mencapai 5 persen luas Kota Jayapura, sangat kecil.
Keistimewaan Nauru?
Di tahun 60-an hingga 80-an, negara Nauru sempat menjadi negara yang paling makmur di masanya. Pendapatan per kapita penduduk Nauru adalah salah satu yang tertinggi di dunia. Namun, pelan tapi pasti, Nauru menjadi negara yang bangkrut dan kini miskin, dan berharap banyak dari bantuan pihak asing untuk tetap memutar roda pemerintahan di sana.
Apa yang sebenarnya terjadi?
Kemakmuran Nauru bermula ketika ditemukan fosfat yang berasal dari ‘fosil’ kotoran burung pada awal abad ke-20. Fosfat adalah bahan penting dalam industri pupuk. Lebih dari 70% tanah Nauru terdiri atas endapan tahi burung Guano yang menumpuk selama ribuan tahun lalu. Hal ini dikarenakan dulunya Nauru merupakan tempat bagi koloni besar burung Guano.
Pulau ini adalah eksportir utama fosfat sejak 1907, saat Pacific Phosphate Company memulai pertambangan di sana, hingga pembentukan British Phosphate Commisision pada 1919, dan berlanjut hingga kemerdekaan Nauru pada 1968. Nauru adalah pulau fosfat berkualitas tinggi. Cadangan yang dekat dengan permukaan membuat penambangan zat ini mudah dilangsungkan. Pertambangan dilakukan secara besar-besaran dibawah kontrol pemerintah melalui Nauru Phosphate Corporation.
Sejak saat itulah, seketika Nauru menjadi negara kecil yang kaya raya dan mengangkat pendapatan rakyatnya secara drastis. Dalam waktu singkat, mereka menikmati pendapatan perkapita tertinggi dibandingkan dengan negara lain di dunia pada akhir 1960-an dan awal 1970-an.
Bencana Akibat Terbuai
Menjadi negara kaya baru membuat warga Nauru banyak meninggalkan pekerjaan mereka, dan memilih berlibur melanglang buana untuk berfoya-foya. Mereka juga sangat gemar mengonsumsi alkohol dan merokok. Negara mensubsidi kehidupan seluruh rakyatnya. Lebih dari 80% angkatan kerja diangkat sebagai pegawai negeri, bahkan mereka yang tidak bekerja pun disubsidi oleh negara. Pajak dihapuskan, pendidikan dan layanan kesehatan tersedia gratis, pangan disubsidi, dan mereka yang ingin sekolah ke luar negeri dibiayai oleh negara. Angkatan kerja menjadi sangat terbatas karena tak ada lagi yang mau bekerja keras yang membuat lelah. Mereka terpaksa mengimpor tenaga kerja dari negara-negara tetangganya seperti Tuvalu atau Kiribati.
Eksplorasi berlebihan kekayaan membuat Nauru terlena. Mereka mengeksplorasi sesuatu yang menjadi satu-satunya sandaran hidup negara itu secara besar-besaran, tanpa memikirkan dan berinvestasi untuk masa depan. Eksploitasi pertambangan Fosfat di kepulauan Nauru pun kini telah berubah menjadi bencana karena daerah-daerah yang telah selesai dieksploitasi mengalami kerusakan parah, dan terjadi kerusakan lingkungan hingga mencapai 75 persen dari seluruh wilayahnya.
Bekas tambang Fosfat yang menganga lebar kini membuat Nauru seperti permukaan bulan yang tandus, rusak parah.
Di sisi lain, saat fosfat benar-benar habis di awal tahun 2000, ekonomi negara langsung anjlok. Kekayaaan negara pun sudah hilang oleh gaya hidup foya-foya penduduknya, sedangkan investasi ke luar negeri yang diupayakan pemerintah tidak membuahkan hasil. Nauru lalu menjadi bangkrut, jatuh miskin, serta tak memiliki industri sebagai penopang ekonomi. Semuanya sudah habis, satu-satunya bekas nyata tersisa dari era kemakmuran Nauru ialah kegemukan (obesitas) dan penyakit diabetes yang diderita sebagian besar penduduknya. Inilah negara dengan tingkat obesitas tertinggi di dunia.
Untuk mengumpulkan uang, pemerintah mengeluarkan kebijakan tidak biasa. Pada tahun 1990-an, Nauru menjadi surga pajak dan pusat praktik pencucian uang. Sejak 2001 hingga 2008, Nauru mendapat bantuan dari pemerintah Australia, sementara Australia mendapat hak untuk mendirikan pusat penahanan bagi orang-orang yang mencoba untuk memasuki Australia tanpa dokumen di Nauru.
Tetap Tak Menyelesaikan Masalah
Yang membuat semakin ironis, selama periode 2005 hingga September 2006, Nauru menjadi terisolasi dari dunia luar, karena Air Nauru yang sebelumnya menjadi satu-satunya maskapai penerbangan yang melayani penerbangan ke Nauru, memutuskan untuk berhenti beroperasi. Satu-satunya jalan keluar dari Nauru adalah kapal laut. Maskapai penerbangan tersebut akhirnya kembali dapat beroperasi dengan nama Our Airline lewat pertolongan bantuan dana dari China.
Sumber : MERDEKA.COM
Terbuai Kekayaan Alam, Negara Pasifik Ini Sekarang Jatuh Miskin
0 Response to "Terbuai Kekayaan Alam, Negara Pasifik Ini Sekarang Jatuh Miskin"
Post a Comment