“SIPAHALIMA” MENJADI WARISAN BUDAYA

Sobat Kabar timika Papua , yang semoga dalam lindungan Tuhan yang maha Esa. Kabar timika hadir untuk memberikan seputar topik dan informasi terhangat yang ada di Nusantara umumnya dan khususnya buat warga Papua dan sekitarnya. Berbagai topik dan isi kami sajikan yang mana semoga dapat memberikan pencerahan bagi semuanya. Dan jika kita lihat persoalan tantang “SIPAHALIMA” MENJADI WARISAN BUDAYA, yang baru-baru ini ramai dibicarakan oleh media sosial dan media masa.Kami mencoba untuk mengulasnya disini.

Yang kami harap berdasarkan fakta dan data mengenai “SIPAHALIMA” MENJADI WARISAN BUDAYA kita bisa mengambil poko inti persoalan yang terjadi tanpa mengedepankan emosi semata.mari kita lihat dari dua sisi yang berbeda baik itu baik dan buruknya. Dan mari kita ambil dan selesaikan dengan jalan yang bisa diterima masyarakat. Akhir-akhir ini pokok perbincangan “SIPAHALIMA” MENJADI WARISAN BUDAYA mulai memanas disemua kalangan. Dan kadang malah melupakan poko persoalan yang masih menjadi PR kita semua yaitu kesejahteraan masyarakat banyak.

Baca juga:


Bumi papua tidak seperti wilaayah Jakarta yang begitu pongah dan mewah, Di bumi papua kami hidup dengan dami dan penuh dengan keharmonisan. Namun terkdang kami iri dengan kota Jakarta yang serba mewah dan mudah,kami warga papua untuk menjangkau wilayah satu dengan wilayah lain saja masih sedikit sulit belum lagi persoalan ksehatan,pendidikanya. Dan semoga dengan adanya pembangunan infrastruktur baru semuanya bisa mudah seperti Jakarta.


BeritaSimalungun.com-Perayaan SIPAHALIMA (Ugamo Malim) ditetapkan Pemerintah RI (melalui Kementerian Pendidikan & Kebudayaan) sebagai Warisan Budaya Tak Benda (WBTB) Indonesia 2016, bersama 149 karya budaya lain dari 34 provinsi di Indonesia.

Penyerahan sertifikat penetapan WBTB itu dilaksanakan di Jakarta, Kamis (27 Oktober). Karya budaya lain dari Sumatera Utara yang ditetapkan sebagai WTB adalah ERPANGIR KU LAU, NI ‘OWORU, dan DAYOK BINATUR (Harian KOMPAS, 28/10/2016).

SIPAHALIMA secara garis besar adalah perayaan syukur bumi dan panen. Ia menjadi salah satu urutan dari urutan upacara kehidupan sosial - pertanian dalam kebudayaan asli Batak. Tapi, sejauh ini, yang melaksanakan perayaan Sipahalima secara rutin dan besar adalah komunitas Parmalim yang berpusat di Hutatinggi, Kec. Laguboti, Kab. Toba Samosir. Upacara perayaan ini biasa dilaksanakan sekitar bulan Juli.

Dengan demikian, tahun 2016 ini Parmalim Hutatinggi dua kali mendapat penghargaan dari Pemerintah RI. Agustus lalu, Parmalim Hutatinggi juga mendapat “Anugerah Kebudayaan dan Penghargaan Maestro Seni Tradisi 2016” untuk kategori Komunitas.

Anugerah Kebudayaan diberikan berdasarkan usulan, seleksi juri, dan klarifikasi yang dilaksanakan Direktorat Warisan dan Diplomasi Budaya, Dirjen Kebudayaan, Kemendikbud. Sementara penetapan WBTB berdasarkan usulan dari provinsi-provinsi di Indonesia.

Seperti dikatakan Mendikbud Muhadjir Effendy, penetapan warisan budaya, khususnya warisan budaya tak benda ibarat “enksiklopedi” budaya sebuah bangsa. Dari enksiklopedi ini kita bisa belajar tentang budaya-budaya asli negeri kita, yang sedihnya, justru banyak terancam punah. Termasuk budaya asli orang Batak.

Semoga kita orang Batak sudi menoleh ke dalam ensiklopedi itu. Selamat, dan terimakasih untuk saudara-saudara kami dari komunitas Parmalim yang berpusat di Hutatinggi. Juga kepada Pemprov Sumut yang mengusulkan Sipahalima sebagai warisan budaya. Horas! Horas! Horas! (Nestor Rico Tambun)

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "“SIPAHALIMA” MENJADI WARISAN BUDAYA"

Post a Comment