"Mr Clean", Ulama Tanpa Jubah dan Khotbah...

Sobat Kabar timika Papua , yang semoga dalam lindungan Tuhan yang maha Esa. Kabar timika hadir untuk memberikan seputar topik dan informasi terhangat yang ada di Nusantara umumnya dan khususnya buat warga Papua dan sekitarnya. Berbagai topik dan isi kami sajikan yang mana semoga dapat memberikan pencerahan bagi semuanya. Dan jika kita lihat persoalan tantang "Mr Clean", Ulama Tanpa Jubah dan Khotbah..., yang baru-baru ini ramai dibicarakan oleh media sosial dan media masa.Kami mencoba untuk mengulasnya disini.

Yang kami harap berdasarkan fakta dan data mengenai "Mr Clean", Ulama Tanpa Jubah dan Khotbah... kita bisa mengambil poko inti persoalan yang terjadi tanpa mengedepankan emosi semata.mari kita lihat dari dua sisi yang berbeda baik itu baik dan buruknya. Dan mari kita ambil dan selesaikan dengan jalan yang bisa diterima masyarakat. Akhir-akhir ini pokok perbincangan "Mr Clean", Ulama Tanpa Jubah dan Khotbah... mulai memanas disemua kalangan. Dan kadang malah melupakan poko persoalan yang masih menjadi PR kita semua yaitu kesejahteraan masyarakat banyak.

Baca juga:


Bumi papua tidak seperti wilaayah Jakarta yang begitu pongah dan mewah, Di bumi papua kami hidup dengan dami dan penuh dengan keharmonisan. Namun terkdang kami iri dengan kota Jakarta yang serba mewah dan mudah,kami warga papua untuk menjangkau wilayah satu dengan wilayah lain saja masih sedikit sulit belum lagi persoalan ksehatan,pendidikanya. Dan semoga dengan adanya pembangunan infrastruktur baru semuanya bisa mudah seperti Jakarta.

Mantan Menteri Keuangan Mar'ie Muhammad meninggal dunia di usia 77 tahun. Sebelumnya almarhum sempat dirawat di RS Pusat Otak Nasional Jakarta. Almarhum Mar'ie dimakamkan di TPU Tanah Kusir Jakarta Selatan, 11 Desember 2016.
Oleh: Indy Hardono

BeritaSimalungun.com, Jakarta-Tidak ada media sosial pada masanya yang siap merekayasa "kemasan" seseorang menjadi tokoh "siap saji" ke masyarakat. Tak ada program televisi yang siap memberi panggung kepadanya untuk dielu-elukan dan kemudian dianugerahkan gelar "Bapak anti-korupsi".


Ya, tidak ada podium tempatnya berteriak mengais-ngais pengakuan dan pencitraan. Semua berjalan naluriah, tanpa panggung. 

Itulah Mar'ie Muhammad. Dia tidak membangun monumen kejujuran dengan berbagai gerakan "anti-ini" atau "anti-itu". Mobil Peugeot bututnya yang dipakai pada saat menjabat sebagai Dirjen Pajak sering diusir satpam masuk ke rumah pejabat, dan itulah monumen kesederhanaannya.


Bukan sekadar slogan

Pada masa ketika demokrasi masih sebatas angan, tanpa perlu berkoar-koar tentang kepentingan rakyat, Mar'ie sudah sangat sadar dengan arti demos dan kratos

Rakyatlah yang ada di nuraninya saat merestukturisasi birokrasi pajak, yaitu pada saat mereduksi anggaran negara dan "bersih-bersih" di kementerian yang dianggap paling "basah" di negeri ini.

Semua dilakoninya dalam kesehariannya, bukan sekadar slogan. Penerapan tata kelola pemerintahan, khususnya di bidang keuangan, juga bukan sekadar gerakan atau wacana, melainkan langsung diterapkannya tanpa perlu gembar-gembor di sana dan sini.

Baginya, kemewahan adalah bersarung dan berkaus oblong di rumah sambil minum teh seraya menyalurkan hobinya menonton tayangan pertandingan sepak bola dan kemudian dapat tidur pulas tanpa beban.

Menentang arus

Pada masa otoritas dapat dikalahkan oleh kekuasaan, dia tidak hirau dan terbebani dengan tekanan politik dan kepentingan. Baginya, rakyatlah sang majikan sesungguhnya.

Menjadi penentu berbagai kebijakan keuangan di masa nepotisme masih dianggap sebagai suatu kelumrahan, Mar'ie tetap dapat bertahan dengan integritasnya, walaupun kadang harus berseberangan dengan sesama koleganya di kabinet saat itu. 

Tidak terbayangkan cara seseorang yang hanya berbekal ijazah sarjana (S-1) dari perguruan tinggi lokal, yang merintis karier sebagai birokrat dari tingkat terbawah, mampu melawan derasnya arus "pro-kekuasaan" saat itu.

Ayam kampung dari Ampel

Mar'ie enggan tampil di forum diskusi para pakar. Dia juga tergolong pelit memberi komentar kepada media. Dia kerap berkata, "Saya ini hanya ayam kampung dari Ampel, tak pantas bersanding dengan para doktor lulusan Harvard."

Ia kerap kikuk berteriak di podium, apalagi jika harus tampil dalam acara debat politisi seperti yang sekarang marak di media elektronik. 

Mungkin, satu-satunya teriakan yang ia lakukan adalah saat gemas menonton tim nasional sepak bola di layar kaca gagal memasukkan bola ke gawang lawan.

Tak ada massa berikat kepala yang dikerahkannya untuk berteriak-teriak menyatakan takut dan gemetarnya dia kepada Sang Maha Pencipta. Namun, lantunan ayat yang dia lafalkan dengan bergetar dan kadang diselingi tangisnya saat menjadi imam shalat berjemaah itulah saksi kepada siapa ia benar-benar "accountable".

Pun, mungkin, satu-satunya "massa" yang dia miliki adalah orang-orang yang rajin menyapanya pada saat joging di Senayan setiap sore sehingga dia dikenal sebagai "Lurah Senayan".

Khotbah dan jubah

Khotbahnya bukan hujatan, makian, apalagi berisi kata-kata kasar. Bukan pula umbaran kata jihad.

Mar'ie berkhotbah dengan teladannya, dengan integritas dan kesederhanaannya. Jihadnya adalah perjuangan menegakkan kebenaran di tengah tirani kolusi, korupsi, dan nepotisme.

Jubah kebesarannya bukanlah rumah mewah, gelar bergengsi, tanda jasa berderet, atau banyaknya pengikut di akun media sosial. Jubah kebesarannya adalah lurusnya niat dan tangisnya pada saat menyebut nama Sang Khalik.

Jubah kebesarannya terlihat kembali pada tanggal 11 Desember 2016, saat berpuluh tokoh besar, para kolega sesama menteri masa Orde Baru, bahkan ada yang memaksakan diri datang dengan kursi rodanya, serta para tokoh lintas golongan dan generasi mendatangi rumah duka yang relatif sangat sederhana untuk seorang mantan pejabat.

Selamat jalan "Mr Clean"! Selamat jalan Mar'ie Muhammad. Insya Allah hasil audit di "sana" adalah "wajar tanpa pengecualian".(*)


Sumber: Kompas.com

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to ""Mr Clean", Ulama Tanpa Jubah dan Khotbah..."

Post a Comment