Sobat Kabar timika Papua , yang semoga dalam lindungan Tuhan yang maha Esa. Kabar timika hadir untuk memberikan seputar topik dan informasi terhangat yang ada di Nusantara umumnya dan khususnya buat warga Papua dan sekitarnya. Berbagai topik dan isi kami sajikan yang mana semoga dapat memberikan pencerahan bagi semuanya. Dan jika kita lihat persoalan tantang Presiden Sebut Nilai Tukar Dollar Bukan Tolak Ukur Perekonomian Indonesia, yang baru-baru ini ramai dibicarakan oleh media sosial dan media masa.Kami mencoba untuk mengulasnya disini.
Yang kami harap berdasarkan fakta dan data mengenai Presiden Sebut Nilai Tukar Dollar Bukan Tolak Ukur Perekonomian Indonesia kita bisa mengambil poko inti persoalan yang terjadi tanpa mengedepankan emosi semata.mari kita lihat dari dua sisi yang berbeda baik itu baik dan buruknya. Dan mari kita ambil dan selesaikan dengan jalan yang bisa diterima masyarakat. Akhir-akhir ini pokok perbincangan Presiden Sebut Nilai Tukar Dollar Bukan Tolak Ukur Perekonomian Indonesia mulai memanas disemua kalangan. Dan kadang malah melupakan poko persoalan yang masih menjadi PR kita semua yaitu kesejahteraan masyarakat banyak.
Bumi papua tidak seperti wilaayah Jakarta yang begitu pongah dan mewah, Di bumi papua kami hidup dengan dami dan penuh dengan keharmonisan. Namun terkdang kami iri dengan kota Jakarta yang serba mewah dan mudah,kami warga papua untuk menjangkau wilayah satu dengan wilayah lain saja masih sedikit sulit belum lagi persoalan ksehatan,pendidikanya. Dan semoga dengan adanya pembangunan infrastruktur baru semuanya bisa mudah seperti Jakarta.
HarianPapua.com – Saat berbicara di acara 100 Ekonom Indonesia, di Hotel Fairmount, Jakarta, Selasa (6/12) pagi, Presiden Joko Widodo (Jokowi) menyinggung melemahnya semua mata uang di dunia termasuk mata uang Rupiah terhadap dollar AS pasca terpilihnya kandidat dari Partai Republik, Donald Trump, sebagai Presiden Amerika Serikat (AS).
Presiden Jokowi memperkirakan, Trump akan menerapkan kebijakan ekonomi yang sifatnya reflasi, dengan memperkuat pertumbuhan ekonomi AS, dan meningkatkan inflasi nilai mata uang dollar AS. Dengan demikian, maka kondisi nilai tukar rupiah tidak akan mencerminkan kondisi fundamental perekonomian Indonesia, tetapi lebih mencerminkan kebijakan ekonomi AS yang sepertinya jalan sendiri.
Menurut Presiden Jokowi, mestinya jangan seperti itu. Ia mengingatkan, eksport ke AS sebesar 10%, 10 – 11 % dari total eksport Indonesia. Karena itu, jangan sampai angka itu sampai 11% mendominasi persepsi ekonomi karena yang berkaitan dengan dollar dan rupiah.
“Kalau kita mengukur ekonomi Indonesia hanya pakai dollar nantinya kita akan kelihatan jelek, padahal negara yang juga sama mengalami hal yang sama,” tutur Presiden Jokowi seraya menambahkan, kalau kita ukur ekonomi kita pakai euro atau pakai yuan atau pakai won mungkin akan berbeda, dan mungkin akan kelihatan jauh lebih baik .
Meskipun sudah bertahun-tahun kita melihat dollar dan rupiah, menurut Presiden, dollar dan rupiah bukanlah tukar yang tepat. Menurutnya, seharusnya yang relevan kurs rupiah melawan kurs mitra dagang kita terutama mitra dagang terbesar.
“Kalau mitra dagang kita yang terbesar Tiongkok seharusnya kurs rupiah dengan yuan atau renminbi. Mestinya seperti itu. Kalau misalkan kita Jepang ya kurs rupiah dengan yen,” kata Presiden Jokowi.
Presiden kembali mengingatkan, bahwa ekspor ke AS hanya 9 – 10% dari total perdagangan kita, Tiongkok malah angka yang ada di saya 15-15,5% dari total perdagangan kita. Eropa 11,4 persen Jepang 10,7%.
Karena itu, menurut Presiden, penting sekali untuk mengedukasi publik. “Kami minta agar para ekonom memberikan kritik dan saran mengingatkan hal hal mengenai ekonomi makro dan mikro kita,” pungkas Presiden Jokowi.
Hadir dalam kesempatan itu antara lain Menko Perekonomian Darmin Nasution, Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati, Mensesneg Pratikno, dan Menteri Perdagangan Enggartiasto Lukito.
Presiden Sebut Nilai Tukar Dollar Bukan Tolak Ukur Perekonomian Indonesia
0 Response to "Presiden Sebut Nilai Tukar Dollar Bukan Tolak Ukur Perekonomian Indonesia"
Post a Comment