Sobat Kabar timika Papua , yang semoga dalam lindungan Tuhan yang maha Esa. Kabar timika hadir untuk memberikan seputar topik dan informasi terhangat yang ada di Nusantara umumnya dan khususnya buat warga Papua dan sekitarnya. Berbagai topik dan isi kami sajikan yang mana semoga dapat memberikan pencerahan bagi semuanya. Dan jika kita lihat persoalan tantang Ulat Sagu, Kuliner "Ekstrim" tapi Kaya Gizi, yang baru-baru ini ramai dibicarakan oleh media sosial dan media masa.Kami mencoba untuk mengulasnya disini.
Yang kami harap berdasarkan fakta dan data mengenai Ulat Sagu, Kuliner "Ekstrim" tapi Kaya Gizi kita bisa mengambil poko inti persoalan yang terjadi tanpa mengedepankan emosi semata.mari kita lihat dari dua sisi yang berbeda baik itu baik dan buruknya. Dan mari kita ambil dan selesaikan dengan jalan yang bisa diterima masyarakat. Akhir-akhir ini pokok perbincangan Ulat Sagu, Kuliner "Ekstrim" tapi Kaya Gizi mulai memanas disemua kalangan. Dan kadang malah melupakan poko persoalan yang masih menjadi PR kita semua yaitu kesejahteraan masyarakat banyak.
Bumi papua tidak seperti wilaayah Jakarta yang begitu pongah dan mewah, Di bumi papua kami hidup dengan dami dan penuh dengan keharmonisan. Namun terkdang kami iri dengan kota Jakarta yang serba mewah dan mudah,kami warga papua untuk menjangkau wilayah satu dengan wilayah lain saja masih sedikit sulit belum lagi persoalan ksehatan,pendidikanya. Dan semoga dengan adanya pembangunan infrastruktur baru semuanya bisa mudah seperti Jakarta.
HarianPapua.com – Di Papua selain terkenal dengan Papeda dan beberapa makanan laut sebagai kuliner khas, ada satu lagi kuliner unik yang bisa jadi menantang adrenalin untuk mencobanya.
Makanan yang satu ini selain tidak lazim dikonsumsi, bisa dibilang cukup ‘ekstrim’ bagi kalian yang sekedar ingin mengetahui rasanya.
Bagi sebagian orang awam, ulat sagu tentu saja sangat menjijikan dan terlihat aneh jika dijadikan sebagai makanan. Namun tenang, ulat yang satu ini bisa juga untuk dikonsumsi karena memiliki khasiat yang baik untuk tubuh manusia dengan beberapa kandungan gizinya.
Ulat ini hanya bisa ditemukan pada batang pohon sagu yang sudah ditebang. Atau dengan kata lain, jangan harap kalian dapat menemukannya pada pohon sagu yang masih berdiri tegak (belum ditebang).
Biasanya pada pohon sagu yang telah ditebang dan diambil sagunya, batang pohon sagu akan dibiarkan begitu saja selama beberapa hari hingga membusuk. Dari situlah akan bermunculan ulat-ulat yang dinamakan ulat sagu.
Untuk cara penyajiannya sendiri, ulat sagu oleh masyarakat asli Papua biasa dicampur ke dalam masakan seperti tumisan sayur atau langsung digoreng untuk dihidangkan dengan sambal. Beberapa orang ada yang cukup dengan merebusnya saja. Tapi ada juga yang membuatnya terlihat sangat ekstrim, seperti judul tulisan ini, karena ulat sagu langsung disantap mentah-mentah. (hmm jangan membayangkan ulatnya ya).
Soal rasa ulat sagu bisa dibilang relatif, tapi bagi yang sering memakannya selalu sejutu untuk mengatakan enak. Terasa gurih di lidah karena didukung teksturnya yang lunak, juga sedikit asin. Di beberapa kesempatan ulat ini bisa disajikan dengan dibuat sate.
Manfaat Ulat Sagu
Di setiap 100 gram ulat sagu, telah diteliti memiliki kandungan sekitar 9,34 persen protein. Angka ini jauh lebih tinggi dari protein telur ayam. Ulat sagu juga bebas dari kolestrol sehingga sangat baik untuk kesehatan tubuh.
Beberapa kandungan lain ulat sagu yang diambil dari tabel gizi, tedapat kandungan asam amino esensial, seperti asam aspartat (1,84%), asam glutamat (2,72%), tirosin (1,87%), lisin (1,97%), dan methionin (1,07%).
Selain itu, konon ulat sagu juga dipercaya dapat menjaga stamina tubuh tetap tinggi dalam melakukan rutinitas sehari-hari.
Bagi kalian yang suka kuliner atau tidak takut untuk mencoba hal-hal baru, ulat sagu cukup mudah ditemukan karena banyak dijual di pasar-pasar tradisional. Berani mencoba?
**oleh Rikardo Kaway, tulisan ini terpilih sebagai salah satu dari 10 pemenang writing contest Jelajah Gizi yang diselenggarakan PT Sari Husada di tahun 2012**
Ulat Sagu, Kuliner "Ekstrim" tapi Kaya Gizi
0 Response to "Ulat Sagu, Kuliner "Ekstrim" tapi Kaya Gizi"
Post a Comment