Begini Ramlo R Hutabarat Mengenang Siboga Nauli

Sobat Kabar timika Papua , yang semoga dalam lindungan Tuhan yang maha Esa. Kabar timika hadir untuk memberikan seputar topik dan informasi terhangat yang ada di Nusantara umumnya dan khususnya buat warga Papua dan sekitarnya. Berbagai topik dan isi kami sajikan yang mana semoga dapat memberikan pencerahan bagi semuanya. Dan jika kita lihat persoalan tantang Begini Ramlo R Hutabarat Mengenang Siboga Nauli, yang baru-baru ini ramai dibicarakan oleh media sosial dan media masa.Kami mencoba untuk mengulasnya disini.

Yang kami harap berdasarkan fakta dan data mengenai Begini Ramlo R Hutabarat Mengenang Siboga Nauli kita bisa mengambil poko inti persoalan yang terjadi tanpa mengedepankan emosi semata.mari kita lihat dari dua sisi yang berbeda baik itu baik dan buruknya. Dan mari kita ambil dan selesaikan dengan jalan yang bisa diterima masyarakat. Akhir-akhir ini pokok perbincangan Begini Ramlo R Hutabarat Mengenang Siboga Nauli mulai memanas disemua kalangan. Dan kadang malah melupakan poko persoalan yang masih menjadi PR kita semua yaitu kesejahteraan masyarakat banyak.

Baca juga:


Bumi papua tidak seperti wilaayah Jakarta yang begitu pongah dan mewah, Di bumi papua kami hidup dengan dami dan penuh dengan keharmonisan. Namun terkdang kami iri dengan kota Jakarta yang serba mewah dan mudah,kami warga papua untuk menjangkau wilayah satu dengan wilayah lain saja masih sedikit sulit belum lagi persoalan ksehatan,pendidikanya. Dan semoga dengan adanya pembangunan infrastruktur baru semuanya bisa mudah seperti Jakarta.

BeritaSimalungun.com-Aku pertama sekali ke Sibolga, Juli 1965. Dibawa almarhum Bapakku, waktu liburan panjang sekolah. Waku itu aku kelas satu SD. Dari Rantauprapat tempat kami tinggal, kami naik bus Serasi hingga ke Siantar. Dari sini, nyambung dengan bus Betahamu sampai ke Balige. Dari Balige, naik bus Sikupawi ke Tarutung. Dan dari Tarutung, naik bus Martimbang ke Sibolga.

Tak ingat aku bagaimana kondisi jalan waktu menuju Sibolga waktu itu. Hampir sepanjang perjalanan aku tidur pulas di pangkuan almarhum Bapakku. Dia mendekapku dalam pelukannya, dengan penuh kasih, sayang dan cinta. 

Barangkali karena sudah terbilang lelah aku sejak dari Rantauprapat, dan cuma satu hari istirahat di tanah leluhur kami, Hutabagasan Partali Toruan, Tarutung. Sekarang, aku rindu pada pelukan Bapakku. Bapakku sudah pergi. Pergi jauh sekali. Ke Tempat Yang Maha Tinggi.

Kami ke Sibolga menjumpai Tulang Bapakku, Komisaris Besar Polisi GK Situmorang. Aku memanggilnya Ompung sesuai dengan tutur Batak, sebab dia Tulang Bapakku. Dia menjadi Kapolres Tapanuli Tengah/ Sibolga waktu itu, yang dulu disebut Danres (Komandan Resort) Pernah suatu masa, pangkat Komisaris Besar Polisi barangkali disebut Letnan Kolonel Polisi.

Tiba di Sibolga, kami tidak langsung ke rumah Tulang Bapakku itu. Tapi menuju Pelabuhan Sibolga, tempat banyak kulihat kapal kecil bersandar. Sudah lewat tengah hari. Ombak berdebar berdebur memecah tembok penahan pelabuhan. 

Suara ombak keras-keras. Angin berhembuss kencang. Di depan mataku, laut seluas-luasnya membentang. Bapakku tertidur di tembok pelabuhan. Aku turun ke pantai yang berpasir. Mencari udang-udang kecil di balik batu. Asyik. Meski pun pakaianku basah dihempas ombak.

“Hei Ram ! Naik ! Naik !”, kata Bapakku sambil mengulurkan tangannya menuntunku ke darat, melalui tembok penahan pelabuhan. Tanggannya yang kekar dan perkasa, hitam dan legam menuntun lenganku yang mungil. 

Sekarang, aku rindu (lagi) genggaman tangan dan jemari Bapakku. Tapi Bapakku sudah pergi. Sudah pergi. Sudah kama sekali. Ke Tempat Yang Maha Tinggi. Dan Bapakku, tak akan kembali lagi.

Kunjungan keduaku ke Sibolga, 1968. Waktu itu aku menuju Pekanbaru lewat Bukittinggi. Aku dibawa Amangudaku almarhum Tuhododo Hutabarat, yang menetap di Pekanbaru. 

Dia pegawai PT Caltex, sebuah perusahaan minyak , asal California - Texas yang menginternasional. Di Sibolga, kami singgah di rumah Namboruku yang nomor empat, Tiarasi Hutabarat yang menikah dengan Amangboruku M Simanungkalit, Guru SMA Negeri Sibolga. 

Sekarang, Namboruku itu bernama Ompu Simanungkalit Martin. Ibundanya Laeku Tigor Simanungkalit, Notaris di Rantauprapat.

Kunjungan ketigaku ke Sibolga, 1975. Bersama beberapa saudara sepupuku. Di antaranya, Rony Roni Prayogi. Kami berjalan kaki pulang pergi Tarutung - Sibolga waktu itu. Namanya saja remaja tingting. Macam tingkah dan polah. 

Bukan karena tak ada uang. Hanya sekadar keinginan untuk berpetualang. Sebuah kisah menarik. Memikat dan mengikat. Tak akan terlupakan. Sampai mati.Sampai mati. Sampai denyut terakhir nadiku. Kelak saja kuceritakann kisah lengkapnya.

Kempat kali ke Sibolga, aku bersama rombongan P3MI (Persekutuan Pemuda Pemudi Methodist Indonesia GMI Agape Pematangsiantar. Aku lupa tahunnya. Tapi sekira 1990-an awal atau pertengahan. 

Waktu itu ada penyerahan bantuan almarhum Dr MH Silitonga untuk Jemaat GMI Sibolga yang baru berdiri. Juga sebuah sepeda motor HONDA untuk Pimpinan Jemaat GMI Sibolga. Kami berangkat dari Siantar, malam hari. Sepanjang perjalanan hingga paginya sampai di Sibolga, rombongan kamu bernyanyi-nyanyi girang. Aku memetik gitar,

Waktu itu aku menjadi Penasehat P3MI GMI Agape Pematangsiantar. Ketuanya waktu itu, Sorta Panjaitan. Pimpinan Jemaat kami waktu itu, Pdt Ebert Lubis. 

Kalau tak salah, Pdt Ebert Lubis sekarang menjadi Pimpinan Jemaat GMI Jalan Pardamean, Medan. Kalau tak salah juga, dia pernah menjadi Sekretaris Kantor Pusat GMI di Jalan Kartini Medan. Kalau aku salah, kawanku Drs. Naurat Silalahi, R O Ro Coky Strs, Ondy Simatupang atau Richad Harianja mohon membenarkan.

Usai Kebaktian di GMI Sibolga waktu itu. kami berlayar menuju Pulau Pomcan di tengah Teluk Sibolga. Berlayar menggunakan kapal kecil yang terbilang sudah uzur digigit usia. Tapi karena darah muda, tak ada takut apalagi gentar. 

Di Pulau Poncan kami berceng kerama memuja muji kebesaran Tuhan Pencipta mayapada beserta isinya. Di Pulau Poncan juga , aku bertemu lagi secara kebetulan dengan mantan pacarku. 

Dia belum menikah waktu itu. Apa boleh buat. Suasana membuat cinta lama bersemi kembali. Tapi cepat-cepat kami menyadari, aku sudah menikah.

Kunjungan ke Sibolga selanjutnya, aku juga lupa tahun berapa. Tapi waktu itu, Tuani Tobing menjadi Bupati Tapanuli Tengah. Aku datangi Tuani ke kantornya yang megah dan mentereng di Pandan. Dia menyambutku dengan gayanya yang khas. 

Ramah dan akrab. Tapi cuma sekadar dan sampai disitu saja. Tidak lebih dan tidak kurang. Menanyakan di hotel mana pun aku menginap, tak ondak dia. Padahal dia tetanggaku kiannya. Kami sama-sama ngontrak rumah di Kompkeks PN Kertas Pematangsiantar.

Kunjunganku ke Sibolga berikutnya, Kamis kemarin 9 Pebruari 2017. Seorang kawan, Anggota DPR RI dan salah seorang Ketua DPP PDIP mengundangku ke Sibolga. 

Ada kampanye pilkada di Pandan, katanya. Dan katanya, dia pingin ngobrol denganku di tengah kesibukannya menjadi Jurkam untukm pasangan AMIN yang antara lain diusung PDIP.

Tentu saja undangannya kuterima. Aku berangkat dengan bus umum dari Siantar pagi harinya. Di Hotel PIA Pandan, aku bertemu dengan banyak kawan. Di antaranya Mangapul Purba, Rospita Sitorus, dari DPC PDIP Simalungun. 

Juga Japorman Saragih, Ketua DPD PDIP Sumatera Utara. Juga teman lamakun Willer Pasaribu yang sekarang Anggota DPRD Sumatera Utara dan kawanku yang lain Aduhot Simamora juga Anggoya DPRD Sumatera Utara. Willer, pernah bersamaku menjadi Pengurus KNPI Sumatera Utara.

Biasalah bertemu dengan politisi. Sampai subuh pujul 04.00 WIB aku ngobrol dengan kawanku Anggota DPR RI yang juga Ketua DPP PDIP itu. Ada juga disana, Anggota DPR RI lainnya, Junimart Girsang, Trimedya Panjaitan, juga Mindo Sianipar. Selain , Calon Bupati Tapanuli Tengah Marga Napitupulu. Tapi aku lupa siapa namanya.

Akibatnya, sepanjang Jumat hari ini, aku setengah pangsan. Aku tidur melulu di kamar hotelku. Kuurungkan pulang ke Siantar, meski pun rinduku pada Tulangnaposoku Zefanya Simanullang sudah menggunung. 

Letih sekali ngobrol dari Sabang sampai Marauke dengan kawan-kawan di Hotel PIA Pandan itu. Maklum sajala politisi kawakan, tulen dan sejati. 

Setiap topik pembicaraan tetap menarik. Yang pasti, aku senang sekali meski lelahnya setengah hidup. Kawanku Anggota DPR RI tadi, seorang multi jutawan, dermawan, dan murah hati serta penuh perhatian. Aku beruntung memiliki kawan seperti dia.

Sudah lewat tengah hari aku tersentak dari tidurku. Aku bergegas menuju sebuah rumah makan. Kucari masakan khas Sibolga, dengan Ikan Panggang Pancannya. Kulahap sedap dan nikmat. Di tepian Pantai Pandan yang landai. 

Ombak berdebur berdebar. Panggang Ikan Pancan yang sedap dan nikmat. Tak jelas bagiku apakah bumbunya atau ikannya yang sedap dan nikmat. Entah juga rok kembang penjualnya yang sesekali dipermainkan angin pantai yang nakal. Membuat darahku sesekali pula tersirap.

Senja hampir diusir malam aku turun ke pasir pantai yang landai. Telapak kaki kumain-mainkan bersama percihan ombak Teluk Tapian Nauli. 

Pikiranku menerawang pada almarhum Bapakku. Puluhan tahun lalu aku dibawanya ke Teluk Sibolga. Sendiri aku waktu itu turun ke tepian laut memainkan batu-batu kecil yang di baliknya ada udang. Sendiri aku saat ini memainkan telapak kakiku di bibir Pantai Pandan.

Sibolga. Sibolga Nauli. Masihol ahu, Masihol ahu laho tusi ................................ seperti terngiang penggalan untaian nyanyian ciptaan almarhum Charles Hutagalung. (Hotel PIA Sibolga, 10 Pebruari 2017-Ramlo R Hutabarat)

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Begini Ramlo R Hutabarat Mengenang Siboga Nauli"

Post a Comment