Drama Kolosal JESUS TARPAJAL DI TANO BATAK

Sobat Kabar timika Papua , yang semoga dalam lindungan Tuhan yang maha Esa. Kabar timika hadir untuk memberikan seputar topik dan informasi terhangat yang ada di Nusantara umumnya dan khususnya buat warga Papua dan sekitarnya. Berbagai topik dan isi kami sajikan yang mana semoga dapat memberikan pencerahan bagi semuanya. Dan jika kita lihat persoalan tantang Drama Kolosal JESUS TARPAJAL DI TANO BATAK, yang baru-baru ini ramai dibicarakan oleh media sosial dan media masa.Kami mencoba untuk mengulasnya disini.

Yang kami harap berdasarkan fakta dan data mengenai Drama Kolosal JESUS TARPAJAL DI TANO BATAK kita bisa mengambil poko inti persoalan yang terjadi tanpa mengedepankan emosi semata.mari kita lihat dari dua sisi yang berbeda baik itu baik dan buruknya. Dan mari kita ambil dan selesaikan dengan jalan yang bisa diterima masyarakat. Akhir-akhir ini pokok perbincangan Drama Kolosal JESUS TARPAJAL DI TANO BATAK mulai memanas disemua kalangan. Dan kadang malah melupakan poko persoalan yang masih menjadi PR kita semua yaitu kesejahteraan masyarakat banyak.

Baca juga:


Bumi papua tidak seperti wilaayah Jakarta yang begitu pongah dan mewah, Di bumi papua kami hidup dengan dami dan penuh dengan keharmonisan. Namun terkdang kami iri dengan kota Jakarta yang serba mewah dan mudah,kami warga papua untuk menjangkau wilayah satu dengan wilayah lain saja masih sedikit sulit belum lagi persoalan ksehatan,pendidikanya. Dan semoga dengan adanya pembangunan infrastruktur baru semuanya bisa mudah seperti Jakarta.

Drama kolosal JESUS TARPAJAL DI TANO BATAK Saat Jumat Agung 14 April 2017 di Parapat, kabupaten Simalungun. Foto-foto Sarido Ambarita.
What the Next?

BeritaSimalungun, Parapat-Drama kolosal JESUS TARPAJAL DI TANO BATAK telah usai. Puji Tuhan, acaranya berjalan dengan sukses. Bahkan, meski dengan biaya yang sangat terbatas, masih bisa berlanjut dengan hiburan malam. Setidaknya untuk memenuhi komsumsi wisatawan agar tidak monoton dengan aktivitas malamnya.

Acara ini telah berlangsung untuk yang keenam kalinya. Dan dua kali berturut-turut (2014 & 2017), pelaksanaanya diserahkan pada Ikatan Muda-mudi Siburak-burak (IMMS).

Ini pula salah satu yang menimbulkan pertanyaan kepada panitia: Kenapa EO-nya IMMS? Kenapa bukan membawa nama Kecamatan?

Terus-terang, sebagai konseptor acara ini dari sejak awal, saya sudah banyak mengalami pasang-surut serta berbagai kendala lainya. Maklumlah, acara ini murni swadaya masyarakat, baik warga yang tinggal di Parapat dan perantauan, mau pun para donatur yang bukan warga Parapat yang tak dapat saya sebutkan satu persatu.

Salah satu yang saya hadapi, ya itu tadi, soal membawa nana Kecamatan. Sejatinya, kita juga pernah membawa nama kecamatan dalam pelaksanaannya. 

Ketika itu, kita mengumpulkan para generasi muda dari seluruh kecamatan untuk ikut terlibat. Tapi ironisnya, yang mau memberikan perhatiannya hanyalah segelintir. 

Hanya 5 orang kami yang bekerja. Tapi, karena sudah terlanjur membawa nama kecamatan, apa boleh buat, acara harus berjalan dan terlaksana. Ini tak hanya sekali dua kali.

Maka itulah, karena lelah meminta-minta, pergelarannya tidak bisa terlaksana setiap tahun. Saya pun sudah mulai jenuh. Ketika IMMS tebentuk, ada usul untuk melanjutkan pergelaran drama kolosal. Gayung pun bersambut. 

Saya tertarik melihat keseriusan anak2 muda ini. Sementara selama ini, saya menunggu-nunggu ada pihak (entah lingkungan atau organisasi mana pun) yang mau melanjutkan acara ini.

Syukurlah, dua kali IMMS sebagai EO, boleh terbilang sukses. Dan bagi saya, IMMS hanya ibarat sebuah kran yang membukakan air agar mengalir. Ini menjadi sebuah motivasi agar yang lain ikut berbuat. Katakanlah, tidak harus drama kolosal. 

Mungkin ide lain yang lebih kreatif. Syukur2 warga Parapat bisa bersatu dan membawa nama kecamatan. Jadi, IMMS bukanlah bentuk pengkotak-kotakan atau sikap primordialisme. Tapi sebagai motivator. 

Saya pun lebih setuju lagi jika semua lingkungan yang ada di kecamatan girsap mau bergabung melanjutkan drama kolosal untuk yang ketujuh. 

Syukur2 bisa menjadi event tahunan. Bagi saya sendiri, kalau mau, saya tidak mempermasalahkan siapa pun yang menjadi pelaksananya. Sekali lagi, IMMS hanya sekedar kunci pembuka pintu semata. 

Sementara tujuan kita adalah, secara khusus mengajak tamu agar merayakan Paskah di Parapat. Secara umum tentunya hiburan tersendiri bagi warga Parapat.


Seusai pesta, tentu kita tidak boleh larut dalam euforia yang berlebihan. Masih banyak tantangan yang kita hadapi khususnya menarik wisatawan agar datang ke kota kita. Jika mau, banyak sebenarnya yang bisa kita lakukan. 

Alam kita sungguh memberi inspriasi. Baik dari sisi budaya, religi mau pun keindahan alam yang Tuhan berikan kepada kita. Persoalannya, mau kah kita? 

Siap kah kita tidak dipecah-belah kepentingan masing2? Harus kah kita biarkan kota kita ini sepi dari kegiatan berbau pariwisata, sementara Pemda kita sendiri seolah tak perduli? Maka itu saya bertanya: WHAT THE NEXT? (Sarido Ambarita)
Drama kolosal JESUS TARPAJAL DI TANO BATAK Saat Jumat Agung 14 April 2017 di Parapat, kabupaten Simalungun. Foto-foto Sarido Ambarita.







Drama kolosal JESUS TARPAJAL DI TANO BATAK Saat Jumat Agung 14 April 2017 di Parapat, kabupaten Simalungun. Foto-foto Sarido Ambarita. Sutradara Sarido Ambarita (Tengah).


















Drama kolosal JESUS TARPAJAL DI TANO BATAK Saat Jumat Agung 14 April 2017 di Parapat, kabupaten Simalungun. Foto-foto Sarido Ambarita.

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Drama Kolosal JESUS TARPAJAL DI TANO BATAK"

Post a Comment