Sobat Kabar timika Papua , yang semoga dalam lindungan Tuhan yang maha Esa. Kabar timika hadir untuk memberikan seputar topik dan informasi terhangat yang ada di Nusantara umumnya dan khususnya buat warga Papua dan sekitarnya. Berbagai topik dan isi kami sajikan yang mana semoga dapat memberikan pencerahan bagi semuanya. Dan jika kita lihat persoalan tantang Anak Ini Kirim Surat Tanpa Alamat Untuk Ibunya Yang Sudah Meninggal, Isinya Bikin Nangis, yang baru-baru ini ramai dibicarakan oleh media sosial dan media masa.Kami mencoba untuk mengulasnya disini.
Yang kami harap berdasarkan fakta dan data mengenai Anak Ini Kirim Surat Tanpa Alamat Untuk Ibunya Yang Sudah Meninggal, Isinya Bikin Nangis kita bisa mengambil poko inti persoalan yang terjadi tanpa mengedepankan emosi semata.mari kita lihat dari dua sisi yang berbeda baik itu baik dan buruknya. Dan mari kita ambil dan selesaikan dengan jalan yang bisa diterima masyarakat. Akhir-akhir ini pokok perbincangan Anak Ini Kirim Surat Tanpa Alamat Untuk Ibunya Yang Sudah Meninggal, Isinya Bikin Nangis mulai memanas disemua kalangan. Dan kadang malah melupakan poko persoalan yang masih menjadi PR kita semua yaitu kesejahteraan masyarakat banyak.
Bumi papua tidak seperti wilaayah Jakarta yang begitu pongah dan mewah, Di bumi papua kami hidup dengan dami dan penuh dengan keharmonisan. Namun terkdang kami iri dengan kota Jakarta yang serba mewah dan mudah,kami warga papua untuk menjangkau wilayah satu dengan wilayah lain saja masih sedikit sulit belum lagi persoalan ksehatan,pendidikanya. Dan semoga dengan adanya pembangunan infrastruktur baru semuanya bisa mudah seperti Jakarta.
Berikut adalah kisahnya.
Berperan sebagai orangtua tunggal lantaran ditinggal oleh seorang istri memang sangat berat. Meski begitu aku tak ingin menyia-nyiakan peranku sebagai seorang ayah. Sejak pagi hari aku sudah melakukan tugas yang harusnya dikerjakan seorang ibu rumah tangga. Mulai dari mencuci baju hingga memasak nasi pun ku kerjakan demi anakku satu-satunya.
Aku pun berangkat ke kantor untuk mencari penghidupan. Sementara anakku yang masih mengantuk kusuruh untuk segera makan dan bersiap-siap berangkat ke sekolah bersama-sama denganku.
Tiba waktu pulang, ku baringkan sejenak tubuhku agar rasa lelah setelah seharian bekerja bisa hilang. Namun tiba-tiba sebuah mangkuk berisi mie instant pecah tepat di tempat aku berbaring.
Aku pun saat itu sangat marah dan mengambil rotan. Ku pukulkan rotan tersebut beberapa kali kepada anakku tanpa belas kasih lantaran pikiran dan fisikku yang begitu lelah.
Ketika selesai, anakku langsung pergi ke kamar. Sementara diriku hanya bisa menangis lantaran kehidupan yang begitu sulit terasa. Setelah sholat Isya, kutengok kamar anakku dan kudapati bahwa ia juga sedang menangis. Bukan karena sakit di punggungnya, namun karena melihat foto almarhum ibunya yang sudah tiada.
Aku kemudian masuk ke dalam kamarnya dan kuobati punggung yang saat itu tampak memerah sambil kubujuk agar mau tidur.
Dalam hati, Aku berjanji tidak akan mengulangi apa yang telah ku perbuat. Namun sebuah insiden setahun kemudian membuatku naik pitam kembali.
Salah seorang guru menelepon saat aku masih berada di kantor. Sang guru mengatakan bahwa anakku tidak masuk sekolah beberapa hari. Padahal jelas-jelas aku selalu mengantarkannya ke sekolah.
Anakku hanya bisa berkata, “Maafkan aku ayah”.
Setelah beberapa hari berlalu, anakku mendapat pelajaran menulis dan membaca. Di rumah ia pun nampak begitu rajin menulis. Hal ini ia lakukan di dalam kamarnya yang kupikir ia sedang belajar memperlancar tulisannya.
Aku saat itu begitu bangga bisa melihat anakku yang rajin. Almarhum istriku pun tentu akan bangga jika bisa melihatnya.
Namun beberapa hari setelah itu, seorang petugas kantor pos setempat mendatangi rumahku dan mengatakan bahwa anakku telah mengirimkan puluhan surat tanpa mencantumkan alamat jelas. Petugas itu memang kebetulan adalah salah satu tetangga dekatku sehingga tahu bahwa surat itu buatan anakku sendiri.
Ketika kutanya kepada anakku mengapa ia melakukan hal tersebut, anakku menjawab bahwa ia hanya ingin mengirimkan surat untuk almarhum ibunya. Ia pun masuk ke dalam kamar sembari menangis dan mengatakan “Maafkan aku ayah.”
Merasa penasaran, kucoba membuka beberapa surat tersebut dari amplop yang tertulis jelas “Untuk Ibu Tersayang”.
Aku baca perlahan dan seketika deraian air mata membasahi pipiku.
Berikut isi surat yang ditulis oleh anakku.
“Ibu, hari ini aku kena marah oleh ayah karena menaruh mie instant di bawah selimutnya. Saat itu aku sangat lapar dan ingin makan nasi. Tapi karena ayah melarang untuk menggunakan kompor, aku pun memasak mie menggunakan air termos. Satu untukku dan satu untuk ayah. Tapi kutaruh punya ayah di bawah selimutnya agar tidak cepat dingin. Namun aku lupa memberitahu ayah. Aku pun dimarahi karena mie itu tumpah.
Ibu, hari itu aku dan teman-teman disuruh membuat pertunjukan. Ibu guru juga mengundang ibu-ibu murid untuk datang ke sekolah agar bisa melihat pertunjukan kami.
Tapi ibu kan sudah tidak ada dan aku tak ingin ke sekolah. Aku sengaja tidak memberitahu ayah karena takut ia menangis dan ingat kepada ibu. Untuk menyembunyikan rasa sedihku, aku main game di warnet dan ayah menemukanku serta memarahi sembari memukuliku.
Bu, setiap hari aku begitu merindukanmu. Setiap hari aku selalu teringat padamu. Namun bisakah ibu muncul dalam mimpiku malam ini karena aku ingin memeluk dan berbicara denganmu?”
Setelah melihat isi surat tersebut, kuputuskan untuk mendatangi kamarnya dan memeluk anakku sembari meminta maaf atas kelakuanku selama ini.
0 Response to "Anak Ini Kirim Surat Tanpa Alamat Untuk Ibunya Yang Sudah Meninggal, Isinya Bikin Nangis"
Post a Comment