Sobat Kabar timika Papua , yang semoga dalam lindungan Tuhan yang maha Esa. Kabar timika hadir untuk memberikan seputar topik dan informasi terhangat yang ada di Nusantara umumnya dan khususnya buat warga Papua dan sekitarnya. Berbagai topik dan isi kami sajikan yang mana semoga dapat memberikan pencerahan bagi semuanya. Dan jika kita lihat persoalan tantang Innalillahi, Ya Allah, 22 Penghafal Alquran Cilik Meninggal Saat Pesantren Kebakaran Hebat, yang baru-baru ini ramai dibicarakan oleh media sosial dan media masa.Kami mencoba untuk mengulasnya disini.
Yang kami harap berdasarkan fakta dan data mengenai Innalillahi, Ya Allah, 22 Penghafal Alquran Cilik Meninggal Saat Pesantren Kebakaran Hebat kita bisa mengambil poko inti persoalan yang terjadi tanpa mengedepankan emosi semata.mari kita lihat dari dua sisi yang berbeda baik itu baik dan buruknya. Dan mari kita ambil dan selesaikan dengan jalan yang bisa diterima masyarakat. Akhir-akhir ini pokok perbincangan Innalillahi, Ya Allah, 22 Penghafal Alquran Cilik Meninggal Saat Pesantren Kebakaran Hebat mulai memanas disemua kalangan. Dan kadang malah melupakan poko persoalan yang masih menjadi PR kita semua yaitu kesejahteraan masyarakat banyak.
Bumi papua tidak seperti wilaayah Jakarta yang begitu pongah dan mewah, Di bumi papua kami hidup dengan dami dan penuh dengan keharmonisan. Namun terkdang kami iri dengan kota Jakarta yang serba mewah dan mudah,kami warga papua untuk menjangkau wilayah satu dengan wilayah lain saja masih sedikit sulit belum lagi persoalan ksehatan,pendidikanya. Dan semoga dengan adanya pembangunan infrastruktur baru semuanya bisa mudah seperti Jakarta.
Pondok pesantren itu mengalami kebakaran hebat subuh kemarin sekitar pukul 05.30 waktu Malaysia.
Ahmad Tirmizi Abdul Hamid, 46, menceritakan, dirinya datang ke surau Al Madrasatul Ittifaqiyah yang terletak bersebelahan pusat tahfiz kira-kira 5.30 pagi tadi untuk solat subuh.
Beliau yang tinggal tidak jauh dari pusat tahfiz itu berkata, ketika hendak berwudhu, terlihat cahaya terang dari arah bangunan pusat tahfiz.
Namun tidak menyangka sesuatu yang buruk sedang terjadi.
"Selesai berwudhu saya lihat dari pagar surau ke kawasan asrama (bersebelahan surau).
“Saya terdengar anak-anak tahfiz menjerit ... panas-panas...api-api…. Baru saya sadar ada kebakaran.
“Saya menjerit kepada mereka agar keluar dan segera turun sambil saya coba mendapatkan alat pemadam api di dalam kantor namun gagal kerana pintunya berkunci.
"Saya coba mendobrak pintu, juga gagal. Saya bingung dan tak tahu mau buat apa lagi.
“Ketika menghampiri perkarangan pusat tahfiz itu langkah saya terhenti saat seorang anak itu jatuh betul-betul depan mata saya, seorang lagi jatuh di belakang saya dengan api membakar badan mereka," katanya.
Menurut Ahmad Tirmizi, dengan bantuan seorang lagi penduduk yang juga datang bersolat di surau itu, mereka berusaha memadamkan api pada badan anak-anak itu dengan kain basah.
"Saat itu saya langsung tak fikir apa-apa. Saya juga risau dengan nasib anak-anak tahfiz lain di lantai atas. Dalam hati saya tidak putus-putus berdoa agar lebih ramai penduduk menyadari kejadian itu dan datang membantu.
"Sebelum pemadam kebakaran sampai, penduduk coba bantu, tapi semuanya terjadi dalam sekejap mata, api makin besar dan kami juga turut terasa hawa panas serta asap tebal," jelasnya.
Ahmad Tirmizi mengatakan bahwa dia tidak dapat mengingat lebih banyak karena dia terlalu sedih untuk dapat melakukan apapun untuk menyelamatkan lebih banyak siswa yang terjebak.
Sebagian besar peziarah surau yang ditemukan juga mengungkapkan kesedihan dengan tragedi tersebut karena anak-anak tahfiz bersikap sopan dan bersahabat dengan semua orang.
Lebih dari 300 penduduk didaerah terdekat dan ahli waris korban memenuhi ruang surau untuk doa sholat dan maghrib dan mengadakan upacara pembacaan Yassin tadi malam.
Sebanyak 21 siswa dan dua guru yang juga sipir, meninggal dunia dalam kebakaran yang terjadi pukul 05:15.
0 Response to "Innalillahi, Ya Allah, 22 Penghafal Alquran Cilik Meninggal Saat Pesantren Kebakaran Hebat"
Post a Comment