Sobat Kabar timika Papua , yang semoga dalam lindungan Tuhan yang maha Esa. Kabar timika hadir untuk memberikan seputar topik dan informasi terhangat yang ada di Nusantara umumnya dan khususnya buat warga Papua dan sekitarnya. Berbagai topik dan isi kami sajikan yang mana semoga dapat memberikan pencerahan bagi semuanya. Dan jika kita lihat persoalan tantang Maafkan Aku Suamiku.. Jika Bukan Karena HP dan Media Sosialku, Pasti Ini Semua Tidak Akan Terjadi!, yang baru-baru ini ramai dibicarakan oleh media sosial dan media masa.Kami mencoba untuk mengulasnya disini.
Yang kami harap berdasarkan fakta dan data mengenai Maafkan Aku Suamiku.. Jika Bukan Karena HP dan Media Sosialku, Pasti Ini Semua Tidak Akan Terjadi! kita bisa mengambil poko inti persoalan yang terjadi tanpa mengedepankan emosi semata.mari kita lihat dari dua sisi yang berbeda baik itu baik dan buruknya. Dan mari kita ambil dan selesaikan dengan jalan yang bisa diterima masyarakat. Akhir-akhir ini pokok perbincangan Maafkan Aku Suamiku.. Jika Bukan Karena HP dan Media Sosialku, Pasti Ini Semua Tidak Akan Terjadi! mulai memanas disemua kalangan. Dan kadang malah melupakan poko persoalan yang masih menjadi PR kita semua yaitu kesejahteraan masyarakat banyak.
Bumi papua tidak seperti wilaayah Jakarta yang begitu pongah dan mewah, Di bumi papua kami hidup dengan dami dan penuh dengan keharmonisan. Namun terkdang kami iri dengan kota Jakarta yang serba mewah dan mudah,kami warga papua untuk menjangkau wilayah satu dengan wilayah lain saja masih sedikit sulit belum lagi persoalan ksehatan,pendidikanya. Dan semoga dengan adanya pembangunan infrastruktur baru semuanya bisa mudah seperti Jakarta.
Tak jarang, hanya karena HP dan media sosial, sebuah rumah tangga bisa hancur, anak jadi terlantarkan, orang tua jadi malu dan masih banyak dampak lainnya. Seperti kisah berikut ini yang diambil dari berbagai sumber.
Aku seorang perempuan berjilbab menjadi Ibu rumah tangga memiliki satu anak . Berumur 26 tahun tapi banyak orang yang bilang aku masih seperti seorang gadis.
Di sela-sela waktu kesibukanku bekerja di konveksi, aku coba buka BlackBerry baru pemberian suamiku. Tak lupa ku coba buka akun facebook . Ada rasa kangen seru-seruan dengan teman-teman SMA dulu.
Dari facebook, ku mengenal lelaki. Pemuda yang sangat sukses dalam perdagangan dan pendidikannya. Berawal dari sekadar saling like status lama kelamaan beralih saling berkirim pesan. Dalam pesan yang singkat itu kami pun saling rinci keadaan. Meski dia tahu aku istri dan ibu dari anak 4 tahun, dia selalu menanggapi dengan manis .
Dari situ, kami teruskan kirim pesan dengan saling berikan pin Blackberry. Kirim foto dan berujung pada janjian adakan pertemuan.
Aku benar-benar khilaf dan terbuai suasana. Dia memang lebih ganteng dari suamiku dan tak segan-segan memberikan sepatu, seragam sekolah, seragam olah raga dan tas mahal untuk anakku. Bayangkan untuk membeli barang tsb dia rela merogoh ATM nya. Aku begitu terharu.
Itulah awal pertemuanku. Hari berikut koment-komentnya mulai sedikit genit dan nakal. Dan anehnya aku makin terhibur dengan inbox-inbox nakalnya. Mulailah setan merayapiku. Aku tak segan-segan memberi foto telanjang dada permintaannya.
Minggu itu, di pertemuan kedua, kami sudah langsung cek-in hotel di kotaku jakarta. Sebulan dia di jakarta membuat kami sering adakan pertemuan hingga sampai pertemuan ke delapan.
Tiga bulan berlalu, aku mulai hamil. Aku merasa biasa saja, tapi kedua orang tuaku bingung dan mempermasalahka n. Pasalnya, sudah setahun suamiku kerja di pengeboran lepas pantai luar Jawa. Dan sudah barang tentu tak pernah setahun ini menyentuhku .
Aku tetap bilang pada mereka, bahwa ini adalah janin suamiku. Tapi kedua orang tuaku tetap menuduhku melakukan serong. Akhirnya, suamiku pun dituntut pulang.
Tanpa basa-basi, suamiku pun cek BlackBerry dan Facebook ku. Aku demikian bingung dan panik. Masih ada pesan-pesan nakal ku di situ. Aku menangis sejadi-jadinya. Menyembah-nyembah, bertekuk lutut di hadapan suami dan kedua orang tua kandung ku.
“Menantuku, cepat ceraikan dia, biarlah aku kehilangan anak gadis dari pada kehilangan menantu dan cucu sebaik kamu.” kata ibuku
“Dan kamu..!” ibu menudingku dengan mata berair. “Pergilah kemana kau mau, sekarang juga. Dan jangan pernah kau tampakkan wajah menjijikkanmu di hadapanku dan keluargaku.”
Aku keluar rumah dengan tangisan anakku. Bahkan untuk memelukpun aku tak diizinkan. Ku coba minta pertanggung jawaban dari lelaki itu, namun Blackberry dan facebook nya sudah tak aktif lagi. Ku beranikan diri datang ke jogja kampus dimana dia kuliah. Di KABAG kemahasiswaan, ternyata tak menemukan nama yang ku maksud.
Aku menunjukkan foto close up wajahnya dan ternyata tiada ku temui wajah yang seperti itu. Aku pun menangis sejadi-jadinya. Kandunganku sudah hampir 6 bulan. Uang saku pun menipis. Tak tahu kemana arah diuntung. Tak tahu kemana nasib akan menuntun.
Kedua media sosial Blackberry dan Facebook sangat memporak-porandakan rumah tanggaku. Ibu-ibu, bapak-bapak dan sahabat yang baik, gunakan media sosial (dalam kasus ini Blackbery Facebook) sesuai kebutuhan kemanfaatan, bila Anda tak ada manfaaatnya demi keutuhan dan kebahagiaan rumah tangga Anda, maka tinggalkan Facebook, chating dan invite Blackberry.
Naudzubillah.. jangan sampai rumah tangga hancur hanya karena benda kecil kotak bernama HP. Ingat, penyesalan itu datang belakangan!
0 Response to "Maafkan Aku Suamiku.. Jika Bukan Karena HP dan Media Sosialku, Pasti Ini Semua Tidak Akan Terjadi!"
Post a Comment