Sobat Kabar timika Papua , yang semoga dalam lindungan Tuhan yang maha Esa. Kabar timika hadir untuk memberikan seputar topik dan informasi terhangat yang ada di Nusantara umumnya dan khususnya buat warga Papua dan sekitarnya. Berbagai topik dan isi kami sajikan yang mana semoga dapat memberikan pencerahan bagi semuanya. Dan jika kita lihat persoalan tantang ATAS DASAR APAKAH AKU DIBUNUH?, yang baru-baru ini ramai dibicarakan oleh media sosial dan media masa.Kami mencoba untuk mengulasnya disini.
Yang kami harap berdasarkan fakta dan data mengenai ATAS DASAR APAKAH AKU DIBUNUH? kita bisa mengambil poko inti persoalan yang terjadi tanpa mengedepankan emosi semata.mari kita lihat dari dua sisi yang berbeda baik itu baik dan buruknya. Dan mari kita ambil dan selesaikan dengan jalan yang bisa diterima masyarakat. Akhir-akhir ini pokok perbincangan ATAS DASAR APAKAH AKU DIBUNUH? mulai memanas disemua kalangan. Dan kadang malah melupakan poko persoalan yang masih menjadi PR kita semua yaitu kesejahteraan masyarakat banyak.
Baca juga:
Bumi papua tidak seperti wilaayah Jakarta yang begitu pongah dan mewah, Di bumi papua kami hidup dengan dami dan penuh dengan keharmonisan. Namun terkdang kami iri dengan kota Jakarta yang serba mewah dan mudah,kami warga papua untuk menjangkau wilayah satu dengan wilayah lain saja masih sedikit sulit belum lagi persoalan ksehatan,pendidikanya. Dan semoga dengan adanya pembangunan infrastruktur baru semuanya bisa mudah seperti Jakarta.
Ketika Intan Olivia Marbun, gadis kecil berusia 2,5 tahun itu, bertanya : atas dasar apakah aku dibunuh? "Apakah kamu tidak bisa lagi menikmati keceriaan di hari minggu? Lihatlah aku berlari dengan tas kecil di punggung. Memasuki gereja, tempat nama Tuhan diagungkan dan para jemaat bergumam dalam doa.
Ini hari minggu, saatnya mengikuti sekolah minggu. Ketika para guru mengajarkan tentang cinta kasih dan kelembutan tangan Tuhan yang membelai umatnya.
Ini hari minggu, ketika papa libur bekerja, dan tadi pagi sehabis mandi dia menggendongku. Papa menciumi pipiku yang masih menghamburkan wangi sabun. Bulu-bulu kumisnya selalu membuatku geli. Tapi aku senang diciumi papa seperti itu.
Ini hari minggu, matahari bersinar cerah. Dan senyum teman-teman membuatnya lebih cerah. Aku suka pakaian mereka berwarna-warni, mengalahkan suramnya mendung yang kemarin.
Ini hari minggu. Tapi agak berbeda dengan hari minggu kemarin. Saat kami sedang bersama, aku melihat seorang lelaki datang mendekat. Langkahnya goyah dengan sorot mata memerah penuh kebencian. Lalu dia melemparkan bom molotov ke arah kami. Suara ledakan dan api menyala dengan cepat. Aku menjerit. Teman-temanku menjerit.
Api berkobar menyambar tubuhku dan tubuh teman-temanku. Baju bunga-bunga yang tadi pagi dipakaikan mama, terbakar. Tas kecilku juga ikut terbakar. Aku dan beberapa teman seperti kayu bakar, memekik dalam kobaran api.
Kulitku panas. Aku menggigil dalam api. Orang berlarian menolongku. Mematikan api yang membakar tubuhku. Papa mencoba memelukku. Tapi dia urungkan. Dia takut pelukannya akan menyakitiku. Tapi dia harus menggendongku juga, membawa ke rumah sakit. Aku hanya merasakan perih.
Kepada pelempar bom itu, aku tidak marah. Guru sekolah minggu mengajarkan manusia harus saling menyayangi. Yang membuatku sedih, karena papa dan mama tidak bisa memelukku. Luka bakar ini membuatku tidak lagi merasakan hangatnya pelukan mereka.
Biasanya pada saat aku sedih, mama selalu membekapku. Membenamkanku dalam hangat dadanya. Kini aku hanya mendengar isak tangisnya di samping ranjang. Memandingi tubuhku yang terbalut kain putih dengan tatapan buram karena air mata.
Padahal hari ini aku ingin dipeluk. Aku ingin mengusir perih kulitku dalam pelukan mama. Aku ingin dibenamkan dalam dekapannya. Aku ingin menyandarkan kepalaku, menempelkan telingaku di dadanya. Mendengar degup halus dari jantungnya. Sering aku mendengar, detakan jantung itu, seperti membisikkan namaku. Lembut sekali.
Mama, aku ingin dipeluk. Papa, aku ingin dicium....
Tapi mereka hanya menangis di pinggir ranjang memandangi tubuhku yang terbungkus seperti mumi.
Rupanya Tuhan mendengar rintihanku. Dia menghampiriku yang terbaring menahan pedih. Dia datang mendekati ranjang itu. Tangan-Nya yang hangat merengkuh tubuhku. Membenamkan aku di dada-Nya.
Hilang sudah pedih perih. Hilang sudah rasa sakit.
Dalam pelukan Tuhan, aku bertanya : atas alasan apakah aku dibunuh? (Sumber: www.ekokuntadhi.com)
0 Response to "ATAS DASAR APAKAH AKU DIBUNUH?"
Post a Comment