Sobat Kabar timika Papua , yang semoga dalam lindungan Tuhan yang maha Esa. Kabar timika hadir untuk memberikan seputar topik dan informasi terhangat yang ada di Nusantara umumnya dan khususnya buat warga Papua dan sekitarnya. Berbagai topik dan isi kami sajikan yang mana semoga dapat memberikan pencerahan bagi semuanya. Dan jika kita lihat persoalan tantang Cerita Dari Pyramid, Ketika Sungai Bukan Penghalang Untuk Sampai Ke Sekolah, yang baru-baru ini ramai dibicarakan oleh media sosial dan media masa.Kami mencoba untuk mengulasnya disini.
Yang kami harap berdasarkan fakta dan data mengenai Cerita Dari Pyramid, Ketika Sungai Bukan Penghalang Untuk Sampai Ke Sekolah kita bisa mengambil poko inti persoalan yang terjadi tanpa mengedepankan emosi semata.mari kita lihat dari dua sisi yang berbeda baik itu baik dan buruknya. Dan mari kita ambil dan selesaikan dengan jalan yang bisa diterima masyarakat. Akhir-akhir ini pokok perbincangan Cerita Dari Pyramid, Ketika Sungai Bukan Penghalang Untuk Sampai Ke Sekolah mulai memanas disemua kalangan. Dan kadang malah melupakan poko persoalan yang masih menjadi PR kita semua yaitu kesejahteraan masyarakat banyak.
Bumi papua tidak seperti wilaayah Jakarta yang begitu pongah dan mewah, Di bumi papua kami hidup dengan dami dan penuh dengan keharmonisan. Namun terkdang kami iri dengan kota Jakarta yang serba mewah dan mudah,kami warga papua untuk menjangkau wilayah satu dengan wilayah lain saja masih sedikit sulit belum lagi persoalan ksehatan,pendidikanya. Dan semoga dengan adanya pembangunan infrastruktur baru semuanya bisa mudah seperti Jakarta.
HarianPapua.com – Pada awal kedatangannya kesana, Reri melihat sebuah pemandangan yang tak biasa. Pemandangan yang (mungkin) belum pernah ia temui sebelumnya. Bendera negara yang harusnya berkibar gagah di atas tiang, justru terlihat lusuh bahkan robek.
Bingung dan sedih segera bercampur aduk di hatinya. Juga muncul pertanyaan apakah bendera Merah Putih ini mewakili perasaan anak-anak dan kondisi pendidikan disana? Yang juga tak sebaik benderanya.
Reri merupakan satu dari sekian banyak pengajar yang terpilih mengikuti program Sarjana Mendidik di daerah Terdepan, Terluar, dan Terbelakang (SM3T) dari Direktoral Jenderal Pendidikan Tinggi (Dikti).
Kesempatan untuk mengabdi pada anak-anak Papua di SD YPPGI Pyramid, Distrik Pyramid, Kabupaten Jayawijaya pun diambilnya dan tepat di akhir tahun 2014 Reri untuk pertama kali dalam hidupnya menginjakan kaki di Tanah Papua.
“Pertama kali tiba di sana (Pyramid) kondisi yang ada adalah anak-anak baik dari kelas 1, 2, 3 tidak lancar dalam membaca, menulis dan menghitung. Begitu juga dengan yang di kelas tinggi 4, 5, dan 6,” cerita Reri kepada HarianPapua.com.
Situasi ini bisa dimakluminya jika melihat fasilitas di sekolah yang tak ‘seberuntung’ sekolah pada umumnya di daerah perkotaan. Jangankan memiliki laboratorium komputer seperti impian anak-anak lain, melihat guru hadir di dalam kelas saja bersyukurnya bukan main.
Ada standar kebahagiaan berbeda dari anak-anak di Pyramid dan juga mungkin dialami ribuan anak-anak lain di pedalaman Papua. Sejak lahir mereka sudah terbiasa hidup tanpa listrik dan tontonan televisi. Masalah yang turut membatasi pengetahuan mereka terhadap dunia luar.
“Yang membuat saya makin prihatin anak-anak ini tak mengenal Indonesia. Tidak ada lagu kebangsaan disana, mereka tidak bisa menyanyikan lagu Indonesia Raya juga tidak mengetahui siapa Bung Karno dan Bung Hatta,” lanjut Reri.
Kondisi geografis Pyramid memang masih ‘lumayan’ terisolir. Akses jalan kesana harus menempuh jarak yang jauh dengan perjalanan paling cepat delapan jam dari Wamena. Faktor lain yang membuat anak-anak ini tak hanya jasmaninya, namun pikirannya juga ikut-ikutan terisolir.
“Saya pernah menanyakan kepada mereka ‘Apa negara kita?’ Mereka pun dengan semangat menjawab ‘Papua Bapak Guru’ ” katanya sambil menirukan jawaban anak-anak itu.
Mengherankan, namun itulah potret lain betapa pendidikan di Papua yang masih sangat tertinggal dan perlu diberi perhatian serta aksi nyata.
Untuk aktifitas di sekolah sendiri, Reri tak selalu memaksa anak-anak SD YPPGI Pyramid untuk sepenuhnya belajar mata pelajaran umum. Beberapa kegiatan di luar kelas juga diberikan sebagai selingan agar anak-anak ini tak cepat bosan.
Seperti halnya kertas kosong, keseharian anak-anak ini memang harus diisi bahkan dengan hal-hal dasar sekalipun. Ini lantaran mereka tidak pernah mendapatkan hal itu sebelumnya.
“Selain belajar mata pelajaran di kelas, kami juga belajar di luar kelas seperti membuat kerajinan tangan dari tanah liat, menggambar, dan membuat kalung taring babi yang dipasang bersama manik-manik,” katanya.
Ini Di Pyramid, Bukan Jakarta!
Masalah lain anak-anak di Pyramid adalah ketika pagi hari mereka pergi ke sekolah dengan lebih dahulu berjalan kaki beberapa kilometer. Meski di antara mereka ada yang rumahnya tak jauh dari sekolah, namun tak sedikit pula yang tinggalnya agak jauh.
Jalanan yang dilalui anak-anak Pyramid juga tak seperti sebut saja di Jakarta, yang memiliki jalanan datar dan beraspal. Juga dengan fasilitas transportasi yang sangat maju.
“Di Pyramid ada yang rumahnya di atas gunung dan di dasar lembah. Kalau ke sekolah mereka harus melewati aliran sungai baliem. Ini belum ditambah berjalan jauh lagi ke sekolah,” katanya.
“Kalau sampai di sekolah, kaki mereka kadang sudah kotor dengan lumpur. Kalau ada yang pakai sepatu pasti sepatunya basah,” sambung Reri.
Meski hal tersebut sudah seperti santapan sehari-hari, anak-anak ini sebut Reri tak pernah mengeluh dan terlihat ceria. Kebahagian mereka sesederhana sampai di sekolah, bertemu teman-temannya, belajar dan bermain hingga waktunya untuk pulang ke rumah. Sudah tentu dengan melewati rute yang sama saat mereka hendak ke sekolah.
Ada rasa sedih, ironi, namun juga berbalut bangga ketika melihat semangat anak-anak ini sanggup mengalahkan kekurangan yang (ditakdirkan) mereka miliki. Semangat yang sama belum tentu dimiliki anak-anak di perkotaan.
Saat tulisan ini diturunkan, Reri menceritakan sudah mulai banyak bantuan yang mampir kepada anak-anak di SD YPPGI Pyramid seperti seragam sekolah, peralatan belajar-mengajar seperti buku dan alat tulis, hingga bendera baru untuk menggantikan bendera yang sudah lusuh tadi.
Tetap semangat ya, kalian masa depan Papua!
Special thanks to..
Reri Saputra, pengajar SM3T asal Riau yang telah mengabdi lebih dari satu tahun di Pyramid, Kabupaten Jayawijaya, Papua.
Cerita Dari Pyramid, Ketika Sungai Bukan Penghalang Untuk Sampai Ke Sekolah
0 Response to "Cerita Dari Pyramid, Ketika Sungai Bukan Penghalang Untuk Sampai Ke Sekolah"
Post a Comment