Sobat Kabar timika Papua , yang semoga dalam lindungan Tuhan yang maha Esa. Kabar timika hadir untuk memberikan seputar topik dan informasi terhangat yang ada di Nusantara umumnya dan khususnya buat warga Papua dan sekitarnya. Berbagai topik dan isi kami sajikan yang mana semoga dapat memberikan pencerahan bagi semuanya. Dan jika kita lihat persoalan tantang Dosen Sulit Ditemui, Mahasiswa UNIPA Lakukan Aksi Protes, yang baru-baru ini ramai dibicarakan oleh media sosial dan media masa.Kami mencoba untuk mengulasnya disini.
Yang kami harap berdasarkan fakta dan data mengenai Dosen Sulit Ditemui, Mahasiswa UNIPA Lakukan Aksi Protes kita bisa mengambil poko inti persoalan yang terjadi tanpa mengedepankan emosi semata.mari kita lihat dari dua sisi yang berbeda baik itu baik dan buruknya. Dan mari kita ambil dan selesaikan dengan jalan yang bisa diterima masyarakat. Akhir-akhir ini pokok perbincangan Dosen Sulit Ditemui, Mahasiswa UNIPA Lakukan Aksi Protes mulai memanas disemua kalangan. Dan kadang malah melupakan poko persoalan yang masih menjadi PR kita semua yaitu kesejahteraan masyarakat banyak.
Bumi papua tidak seperti wilaayah Jakarta yang begitu pongah dan mewah, Di bumi papua kami hidup dengan dami dan penuh dengan keharmonisan. Namun terkdang kami iri dengan kota Jakarta yang serba mewah dan mudah,kami warga papua untuk menjangkau wilayah satu dengan wilayah lain saja masih sedikit sulit belum lagi persoalan ksehatan,pendidikanya. Dan semoga dengan adanya pembangunan infrastruktur baru semuanya bisa mudah seperti Jakarta.
HarianPapua.com – Sekitar belasan mahasiswa dari jurusan Antropologi, Fakultas Sastra dan Budaya Universitas Papua (Papua) di Manokwari melakukan aksi protes karena kecewa dengan salah satu dosen yang sulit ditemui.
Aksi protes dilakukan Senin (16/01/2017) kemarin dengan menutup salah satu akses masuk menuju Kampus dan diikuti dengan membakar ban bekas sebagai bentuk kekecewaan.
Dari informasi yang dihimpun, mahasiswa dan mahasiswi ini kecewa karena Ketua jurusan Antropologi Dr. Ingurah Suryawan sering meninggalkan kampus sehingga sulit ditemui untuk keperluan administrasi mahasiswa.
“Ketua jurusan sering tidak di tempat. Ini membuat mahasiswa kesulitan mengurus persiapan skripsi, karena butuh perlengkapan administrasi dan konsultasi,” terang Wilson Wader, koordinator aksi.
Ia lalu menjelaskan selama ini mahasiswa khususnya yang sudah berada di tingkat akhir kerap mengalami kendala untuk mendapatkan tanda tangan Ketua Jurusan karena yang bersangkutan jarang ada di tempat.
Padahal, sebagai pimpinan tertinggi di Jurusan Antropologi, Wilson menyebut seharusnya seorang ketua mempermudah langkah mahasiswa dalam menyelesaikan pendidikannya dan bukan malah sebaliknya. “Kami seakan tidak mendapat perhatian. Sehingga kami mengambil tindakan aksi seperti ini,” sambungnya.
Aksi ini sendiri membawa tiga tuntutan kepada pihak kampus agar segera memberikan tanggapan secepatnya.
Tuntutan yang pertama meminta kampus mencopot jabatan Ketua Jurusan Antropologi, kedua meminta agar dalam waktu dekat Jurusan Antropologi sudah terakreditasi oleh Kemenristekdikti dan terakhir mendorong agar salah seorang mahasiswa Antropologi yang sudah memenuhi syarat, untuk diwisudakan.
Aksi mahasiswa ini akhirnya bisa dihentikan setelah pihak Kampus UNIPA melalui pembantu dekan I, Leon Agusta datang untuk mendengarkan aspirasi para mahasiswa.
Kampus berjanji akan menindaklanjuti tuntutan mahasiswa agar ke depannya kejadian seperti dosen yang jarang ada di tempat tidak terulang kembali.
Sumber : mediapapua.com
Dosen Sulit Ditemui, Mahasiswa UNIPA Lakukan Aksi Protes
0 Response to "Dosen Sulit Ditemui, Mahasiswa UNIPA Lakukan Aksi Protes"
Post a Comment