Sobat Kabar timika Papua , yang semoga dalam lindungan Tuhan yang maha Esa. Kabar timika hadir untuk memberikan seputar topik dan informasi terhangat yang ada di Nusantara umumnya dan khususnya buat warga Papua dan sekitarnya. Berbagai topik dan isi kami sajikan yang mana semoga dapat memberikan pencerahan bagi semuanya. Dan jika kita lihat persoalan tantang Mengintip Kehidupan di Asmat, Ketika Langit Menjadi "Sumur" Masyarakat, yang baru-baru ini ramai dibicarakan oleh media sosial dan media masa.Kami mencoba untuk mengulasnya disini.
Yang kami harap berdasarkan fakta dan data mengenai Mengintip Kehidupan di Asmat, Ketika Langit Menjadi "Sumur" Masyarakat kita bisa mengambil poko inti persoalan yang terjadi tanpa mengedepankan emosi semata.mari kita lihat dari dua sisi yang berbeda baik itu baik dan buruknya. Dan mari kita ambil dan selesaikan dengan jalan yang bisa diterima masyarakat. Akhir-akhir ini pokok perbincangan Mengintip Kehidupan di Asmat, Ketika Langit Menjadi "Sumur" Masyarakat mulai memanas disemua kalangan. Dan kadang malah melupakan poko persoalan yang masih menjadi PR kita semua yaitu kesejahteraan masyarakat banyak.
Bumi papua tidak seperti wilaayah Jakarta yang begitu pongah dan mewah, Di bumi papua kami hidup dengan dami dan penuh dengan keharmonisan. Namun terkdang kami iri dengan kota Jakarta yang serba mewah dan mudah,kami warga papua untuk menjangkau wilayah satu dengan wilayah lain saja masih sedikit sulit belum lagi persoalan ksehatan,pendidikanya. Dan semoga dengan adanya pembangunan infrastruktur baru semuanya bisa mudah seperti Jakarta.
HarianPapua.com – Sejak dimekarkan dari Kabupaten Merauke pada tahun 2002 untuk menjadi daerah otonomi baru, Kabupaten Asmat sebenarnya sudah bertumbuh sedikit demi sedikit. Masyarakat Asmat tidak lagi sepenuhnya terisolir dengan dunia luar, walau memang akses keluar masuk ke kabupaten ini menjadi salah satu yang tersulit di antara kabupaten lain di Papua.
Kehidupan masyarakat yang masih kental dengan nuansa tradisional hingga kini sudah cukup untuk menyampaikan pesan bahwa di Asmat, pengaruh dunia luar belum banyak membawa perubahan.
Sebagian besar masyarakat Asmat memanfaatkan hasil alam lewat melaut dan berburu sebagai sumber mata pencaharian. Jika sedang berada di Asmat, jangan heran ketika melihat anak-anak usia sekolah pandai dalam berburu ikan. Hal yang wajar karena kehidupan berburu sudah sedari dulu mereka lakoni generasi ganti generasi.
Anak-anak di Asmat banyak yang tidak seberuntung anak-anak di daerah lain. Banyak di antara mereka tidak bersekolah dengan berbagai alasan seperti tidak memiliki biaya, minder, bahkan tidak diijinkan orang tua.
Khusus alasan terakhir lebih cenderung terjadi kepada anak-anak perempuan dimana mereka tidak diperkenankan keluarga untuk bersekolah karena memang dipersiapkan untuk menikah, bukan menuntut ilmu.
Salah satu faktor lain penyebab rendahnya tingkat pendidikan di Asmat adalah minimnya sarana dan prasarana serta keterbatasan tenaga pengajar bagi siswa-siswi di Kabupaten Asmat.
Data Dinas Pendidikan Provinsi Papua, ada kurang lebih 126 Sekolah Dasar yang tersebar di 8 distrik Kabupaten Asmat. Namun dengan jumlah tersebut, kebanyakan orang tua murid justru mengeluhkan ketiadaan guru di sekolah karena tenaga pengajar yang dikontrak lebih banyak berada di ibukota kabupaten, Agats.
Kesulitan Air Bersih
Bagi yang belum tahu, Asmat juga merupakan daerah dengan kondisi permukaan tanah yang didominasi rawa. Itulah kenapa jalan-jalan bahkan bangunan di wilayah ini dibangun menggunakan material papan. Kondisi inilah yang membuat masyarakat Asmat sulit untuk mendapatkan air bersih karena air tanah (rawa) di sini memiliki tingkat keasaman yang sangat tinggi.
Salah satu cara paling efektif untuk mendapatkan air bersih yaitu dengan menampung air ketika datang hujan. Makanya banyak orang di Asmat sering bercanda dengan menyebut “Kita punya sumur dari langit”.
Sayangnya, ketika musim kemarau tiba, masyarakat Asmat menjadi sangat kesulitan air bersih. Air minum kemasan yang dijual di kios-kios kecil terpaksa dibeli dengan harga mahal hanya untuk sekedar melepas dahaga.
Di sore hari, masyarakat Asmat memiliki kebiasaan jalan-jalan sore dari satu kampung menyebrang ke kampung lainnya. Mereka berjalan saling sapa menapaki jalan papan yang menghubungkan tiap kampung.
Kebiasaan ini memang sudah ada sejak lama, selain sebagai ‘hiburan’ bagi mereka, berjalan di sore hari dapat membuat masyarakat kampung saling mengenal satu sama lain. Tentu juga semakin mengakrabkan.
Harapan Hidup
Di Kampung Mumugu, Distrik Sawaerma merupakan salah satu kampung di Kabupaten Asmat yang masyarakatnya terinfeksi penyakit kusta. Banyak anak-anak hingga orang dewasa terkena penyakit ini.
Pada awal 2016 Dinas Kesehatan Provinsi Papua mencatat ada 102 penderita kasus kusta di Mumugu. Kendati sempat menjadi momok menakutkan, lewat kerja keras semua elemen terkait, di akhir tahun kemarin angka penderita kusta di Kampung Mumugu berhasil ditekan menjadi 30 penderita.
Tentu, di akhir tahun 2017 nanti, masyarakat Asmat khususnya Kampung Mumugu diharapkan dapat segera terbebas dari penyakit kusta. Harapan yang selalu ada untuk mereka yang jauh dari hingar bingar keramaian kota.
Sumber Foto : IST/bernardoeb
Mengintip Kehidupan di Asmat, Ketika Langit Menjadi "Sumur" Masyarakat
0 Response to "Mengintip Kehidupan di Asmat, Ketika Langit Menjadi "Sumur" Masyarakat"
Post a Comment