Sobat Kabar timika Papua , yang semoga dalam lindungan Tuhan yang maha Esa. Kabar timika hadir untuk memberikan seputar topik dan informasi terhangat yang ada di Nusantara umumnya dan khususnya buat warga Papua dan sekitarnya. Berbagai topik dan isi kami sajikan yang mana semoga dapat memberikan pencerahan bagi semuanya. Dan jika kita lihat persoalan tantang Dari Guru, Tukang Ojek Dan Aparat TNI Jadi Korban Di Puncak Jaya, yang baru-baru ini ramai dibicarakan oleh media sosial dan media masa.Kami mencoba untuk mengulasnya disini.
Yang kami harap berdasarkan fakta dan data mengenai Dari Guru, Tukang Ojek Dan Aparat TNI Jadi Korban Di Puncak Jaya kita bisa mengambil poko inti persoalan yang terjadi tanpa mengedepankan emosi semata.mari kita lihat dari dua sisi yang berbeda baik itu baik dan buruknya. Dan mari kita ambil dan selesaikan dengan jalan yang bisa diterima masyarakat. Akhir-akhir ini pokok perbincangan Dari Guru, Tukang Ojek Dan Aparat TNI Jadi Korban Di Puncak Jaya mulai memanas disemua kalangan. Dan kadang malah melupakan poko persoalan yang masih menjadi PR kita semua yaitu kesejahteraan masyarakat banyak.
Bumi papua tidak seperti wilaayah Jakarta yang begitu pongah dan mewah, Di bumi papua kami hidup dengan dami dan penuh dengan keharmonisan. Namun terkdang kami iri dengan kota Jakarta yang serba mewah dan mudah,kami warga papua untuk menjangkau wilayah satu dengan wilayah lain saja masih sedikit sulit belum lagi persoalan ksehatan,pendidikanya. Dan semoga dengan adanya pembangunan infrastruktur baru semuanya bisa mudah seperti Jakarta.
HarianPapua.com – Pergerakan kelompok kriminal bersenjata (KKB) di Puncak Jaya kembali memakan korban jiwa. Hari Kamis (02/03/2017) sore kemarin salah satu anggota TNI yang merupakan ajudan Komandan Kodim 1714 Puncak Jaya meninggal seketika usai terkena tembakan pelaku.
Padahal kejadian ini belum genap satu bulan setelah dua tukang ojek mengalami nasib serupa pada 13 Februari 2017. Saat itu kedua tukang ojek mengalami penganiyaan dan penembakan hingga merenggut nyawa oleh KKB, juga di Puncak Jaya.
Jika mundur ke tahun lalu, teror di Puncak Jaya cukup sering terjadi dan menimbulkan korban luka-luka hingga meninggal dunia. Pada 22 Oktober 2016 terjadi kontak tembak aparat TNI dengan TPN/OPM kelompok Philia, di Gurage, Puncak Jaya yang menyebabkan satu anggota TNI mengalami luka parah di tangan dan kaki.
Mundur satu bulan, teror penembakan di Puncak Jaya juga memakan korban seorang guru bantu berinisial E (27 tahun) asal Sulawesi Selatan pada 12 September 2016. Saat penembakan terjadi malam hari ketika korban sedang berjalan kaki melintas Kampung Karubate yang berada di dekat Bandara Mulia.
Masih di bulan yang sama, pada tanggal 24 September 2016 KKB kembali melancarkan serangan yang melukai dua aparat TNI dan salah seorang warga sipil. Beruntung dalam kejadian ini ketiga korban masih selamat dan hanya mendapatkan pertolongan medis di Rumah Sakit Mulia.
Pelanggaran HAM
Rentetan kejadian ini belum termasuk jumlah teror penembakan yang ada di wilayah sebelahnya Kabupaten Puncak. Pada tahun 2016 sedikitnya 4 orang pekerja proyek jalan dilaporkan tewas ditembak kelompok-kelompok yang kurang lebih sama dengan pelaku teror lainnya.
Insiden penembakan yang merenggut korban jiwa ini juga menambah daftar pelanggaran HAM di Tanah Papua yang seakan tak pernah ada habisnya.
Dari Guru, Tukang Ojek Dan Aparat TNI Jadi Korban Di Puncak Jaya
0 Response to "Dari Guru, Tukang Ojek Dan Aparat TNI Jadi Korban Di Puncak Jaya"
Post a Comment