Sobat Kabar timika Papua , yang semoga dalam lindungan Tuhan yang maha Esa. Kabar timika hadir untuk memberikan seputar topik dan informasi terhangat yang ada di Nusantara umumnya dan khususnya buat warga Papua dan sekitarnya. Berbagai topik dan isi kami sajikan yang mana semoga dapat memberikan pencerahan bagi semuanya. Dan jika kita lihat persoalan tantang Lima Dekade Berdiri di Papua, Freeport Menjadi Salah Satu Penghancur Lingkungan Terbesar, yang baru-baru ini ramai dibicarakan oleh media sosial dan media masa.Kami mencoba untuk mengulasnya disini.
Yang kami harap berdasarkan fakta dan data mengenai Lima Dekade Berdiri di Papua, Freeport Menjadi Salah Satu Penghancur Lingkungan Terbesar kita bisa mengambil poko inti persoalan yang terjadi tanpa mengedepankan emosi semata.mari kita lihat dari dua sisi yang berbeda baik itu baik dan buruknya. Dan mari kita ambil dan selesaikan dengan jalan yang bisa diterima masyarakat. Akhir-akhir ini pokok perbincangan Lima Dekade Berdiri di Papua, Freeport Menjadi Salah Satu Penghancur Lingkungan Terbesar mulai memanas disemua kalangan. Dan kadang malah melupakan poko persoalan yang masih menjadi PR kita semua yaitu kesejahteraan masyarakat banyak.
Bumi papua tidak seperti wilaayah Jakarta yang begitu pongah dan mewah, Di bumi papua kami hidup dengan dami dan penuh dengan keharmonisan. Namun terkdang kami iri dengan kota Jakarta yang serba mewah dan mudah,kami warga papua untuk menjangkau wilayah satu dengan wilayah lain saja masih sedikit sulit belum lagi persoalan ksehatan,pendidikanya. Dan semoga dengan adanya pembangunan infrastruktur baru semuanya bisa mudah seperti Jakarta.
HarianPapua.com – Setelah 50 tahun berdiri dan menyerap emas sebanyak mungkin dari perut Bumi Cenderawasih, PT Freeport Indonesia kini hanya menyisakan trauma yang mendalam pada sektor lingkungan hidup masyarakat di Kabupaten Mimika, Provinsi Papua.
Hal ini memancing sejumlah tokoh adat dari wilayah tersebut untuk kembali mempersoalkan dampak buruk yang ditinggalkan perusahaan multinasional milik Amerika Serikut itu.
“Kami tidak ribut soal siapa pemilik saham. Tapi kehancuran lingkungan dan tatanan simbol budaya yang rusak harus dipulihkan demi sebuah martabat yang adil,” kata Ketua Lembaga Adat Suku Amungme (Lemasa) Odizeus Beanal dalam rilis yang diterima media ini, Jumat (3/3) akhir pekan lalu.
Lingkungan hidup yang menjadi hancur lebur di tangan perusahaan asing tersebut dinilai Odizeus sebagai suatu bencana yang tak bisa dibayar dengan uang sebesar apapun.
“Ini soal harga diri kami, perasaan sosial akan filosofi adat budaya leluhur Amungme harus dikembalikan. Sekali lagi ‘jangan lubangi mama kami’,” tegas Odizeus.
PT Freeport Indonesia sendiri hingga saat ini masih terus dihadapkan dengan sejumlah isu negatif terlebih khusus dari dampak lingkungan hidup yang rusak dan turut mempengaruhi sistem kehidupan di wilayah sekitar areal penambangan.
Lima Dekade Berdiri di Papua, Freeport Menjadi Salah Satu Penghancur Lingkungan Terbesar
0 Response to "Lima Dekade Berdiri di Papua, Freeport Menjadi Salah Satu Penghancur Lingkungan Terbesar"
Post a Comment