Sobat Kabar timika Papua , yang semoga dalam lindungan Tuhan yang maha Esa. Kabar timika hadir untuk memberikan seputar topik dan informasi terhangat yang ada di Nusantara umumnya dan khususnya buat warga Papua dan sekitarnya. Berbagai topik dan isi kami sajikan yang mana semoga dapat memberikan pencerahan bagi semuanya. Dan jika kita lihat persoalan tantang Punya Nama Besar, Kenapa Persipura Sulit Mendapatkan Sponsor?, yang baru-baru ini ramai dibicarakan oleh media sosial dan media masa.Kami mencoba untuk mengulasnya disini.
Yang kami harap berdasarkan fakta dan data mengenai Punya Nama Besar, Kenapa Persipura Sulit Mendapatkan Sponsor? kita bisa mengambil poko inti persoalan yang terjadi tanpa mengedepankan emosi semata.mari kita lihat dari dua sisi yang berbeda baik itu baik dan buruknya. Dan mari kita ambil dan selesaikan dengan jalan yang bisa diterima masyarakat. Akhir-akhir ini pokok perbincangan Punya Nama Besar, Kenapa Persipura Sulit Mendapatkan Sponsor? mulai memanas disemua kalangan. Dan kadang malah melupakan poko persoalan yang masih menjadi PR kita semua yaitu kesejahteraan masyarakat banyak.
Bumi papua tidak seperti wilaayah Jakarta yang begitu pongah dan mewah, Di bumi papua kami hidup dengan dami dan penuh dengan keharmonisan. Namun terkdang kami iri dengan kota Jakarta yang serba mewah dan mudah,kami warga papua untuk menjangkau wilayah satu dengan wilayah lain saja masih sedikit sulit belum lagi persoalan ksehatan,pendidikanya. Dan semoga dengan adanya pembangunan infrastruktur baru semuanya bisa mudah seperti Jakarta.
HarianPapua.com – Persipura Jayapura kembali menghadapi situasi yang sama dengan awal tahun 2016 silam ketika tim kesulitan mendapatkan sponsor demi mengarungi musim kompetisi. Saat itu Persipura bahkan sudah membubarkan tim lantaran belum ada satu pun perusahaan yang memberi sinyal akan mendukung. Hingga akhirnya Bank Papua dan PT Freeport Indonesia (kembali) menjadi pahlawan.
Apa yang dialami Persipura saat ini sebenarnya sudah bisa ditebak ketika Bank Papua dan Freeport kembali mendukung Persipura pada Torabika Soccer Championship (TSC) 2016. Itu artinya Persipura masih belum bisa mandiri karena kedua penyuplai dana tersebut sudah lama menjadi “langganan” Mutiara Hitam dalam 4 hingga 5 tahun ke belakang.
Ketakutan bahwa terlalu beresiko Persipura hanya bergantung kepada kedua penyuplai dana memang benar. Kini, ketika Freeport tengah mengalami masalah dengan Pemerintah Indonesia, dipastikan tidak ada lagi kucuran dana untuk Persipura. Bank Papua yang musim lalu memberikan 15 miliar, musim ini sebenarnya hanya akan memberikan nilai di bawah 10 miliar, namun kemungkinan berubah karena mendapat ancaman dari Ketua Umum Persipura.
Lantas dengan kondisi seperti ini, dengan status Jenderal Sepak Bola Indonesia berbintang empat, kenapa Persipura begitu sulit mendapatkan sponsor tim? Ini 3 alasan HarianPapua.com untuk menjawab pertanyaan tersebut.
1. Terlalu Bergantung Sama Freeport dan Bank Papua
Ini mungkin alasan paling pertama yang mudah diterima. Seperti dijelaskan di awal, ada 4 hingga 5 tahun terakhir Persipura hanya berharap sama kedua sponsor ini. Semakin kedua sponsor ini terus memberikan dana, kok kelihatannya Persipura tidak mau mencari sponsor lain.
Seharusnya Persipura belajar dari pengalaman di tahun 2016 ketika tim dibubarkan. Artinya ketika kedua sponsor ini tak lagi mendukung, Persipura sudah harus memiliki sponsor lain. Manajemen Persipura harus memutar otak untuk mencari sponsor selain Freeport dan Bank Papua.
Bahkan ketika musim lalu sedang berjalan, itu kesempatan Persipura mencari sponsor lain demi menghindari masalah serupa di awal 2016 dan selagi masih bisa didukung kedua sponsor tersebut. Bukan malah menjadi santai setelah kedua sponsor itu (kembali) mendukung Persipura (lagi).
Sudahkah Persipura Menjadi Tim Profesional?
Jika berbicara prestasi, siapa sih di Indonesia yang tak mengenal kedigdayaan Persipura? Tim pertama Indonesia yang pernah menembus babak semifinal Piala AFC 2014. Ini belum termasuk prestasi gemilang di kompetisi Tanah Air.
Sayang seribu sayang, di balik megahnya prestasi Persipura, apakah tim ini sudah dikelolah secara profesional?
Pertama: Dimulai dari pengelolahan tiket ketika bermain di Stadion Mandala, cara distribusi tiket tim bukan seperti tim yang lolos ke babak semifinal Piala AFC. Penonton di Jayapura sering mengeluh karena sulit mendapatkan tiket bahkan ketika hari H pertandingan.
Persipura juga tidak mampu mengatasi calo-calo tiket yang membuat harga tiket melambung tinggi dari harga normal. Padahal masyarakat Papua begitu cinta terhadap Persipura, namun apa daya ketika hendak membeli karcis tribun Livepool di sekitaran Taman Imbi. Harga normal 30.000 berubah menjadi 50-60 ribu. Buruk sekali.
Terlalu banyak penonton gratisan yang selama ini duduk manis di Tribun VIP hingga VVIP tanpa mengeluarkan biaya untuk mendukung tim. Hal ini jelas sangat berdampak kepada keuangan tim yang tidak memadai. Persipura tidak pandai memanfaatkan pertandingan kandang untuk mencari dana. Coba bandingkan dengan Persib, Arema, atau Persela Lamongan.
Nama terakhir mungkin tak punya prestasi bagus, namun tim ini cukup pintar mengelolah karcis laga kandang sehingga tak ada calo dan tak ada penonton gratisan. Al hasil laga kandang selalu ramai dan memberikan dampak positif untuk keuangan tim.
Kedua: Persipura hingga saat ini tidak bisa memaksimalkan kemajuan teknologi dengan baik. Persipura tidak memiliki website yang bagus untuk menarik perhatian sponsor. Juga tak memiliki sosial media yang dekat dengan suporter setia.
Ini menjadi masalah serius karena hampir semua tim di wilayah Barat Indonesia sudah secara baik mengelolah media digital mereka untuk menarik perhatian sponsor. Karenanya, sponsorship juga membutuhkan timbal balik dari tim ketika perusahaan sudah mengeluarkan banyak biaya.
Perusahaan butuh dipromosikan sebanyak mungkin oleh tim lewat sosial media maupun website tim, sehingga ada simbiosis mutualisme, saling menguntungkan antara kedua pihak, bukan satu pihak saja yang diuntungkan.
Jika pengelolahan media digital seperti website dan sosial media saja buruk, bagaimana sponsor mau tertarik mendukung Persipura?
3. Pemilihan Pemain
Alasan terakhir adalah pemilihan pemain. Persipura merupakan tim kebanggaan masyarakat Papua. Sudah tentu setiap anak-anak Papua pantas diberikan kesempatan untuk membela tim ini. Ada semacam aturan “otsus” yang perlu dilihat semua pelatih yang ingin menukangi Persipura.
Sayang, stigma ini seperti menjadi kebablasan jauh karena malah memberikan dampak negatif. Ada begitu banyak pemain-pemain Persipura asli Papua yang jika mau jujur, performa mereka sudah tidak begitu layak dipertahankan manajemen tim.
Kenapa masih dipertahankan jika memang sudah tidak layak? Persipura jangan terlalu tertutup soal perekrutan pemain. Kadang menjadi blunder karena pemain yang masih bagus terpaksa dibuang hanya demi mempertahankan pemain lain yang secara kualitas sudah tidak layak, namun dipertahankan karena memiliki kedekatan dengan manajemen.
Ujung-ujungnya pemain yang dilepas malah ditarik kembali memperkuat tim. Lihat saja Ricardo Salampessy, sempat dilepas lalu ditarik kembali. Robertino Pugliara, dilepas lalu ditarik kembali. Kalau memang masih bagus jangan dilepas, lepaslah yang benar-benar sudah tidak layak dan menurun performanya, jangan ada sistem “kekeluargaan” di dalam tim.
Jika ketiga hal ini bisa diatasi Persipura, dan tentu manajemen yang rajin-rajin mencari sponsor, bukan tidak mungkin akan ada banyak tim yang mau mensponsori Persipura.
Persipura sudah selayaknya dikejar sponsor dan bukan malah dibubarkan karena tak ada sponsor. Empat bintang menunjukan Persipura memiliki nilai jual yang bagus, asal dikelolah dengan baik.
Jika manajemen masih seperti sekarang, agak sulit untuk mendapatkan sponsor sebesar PT Freeport Indonesia lagi.
Persipura butuh revolusi mental, harus direvolusi semuanya, mungkin bisa dimulai dengan merevolusi desain jersey yang sudah bertahan delapan tahun ini.
Punya Nama Besar, Kenapa Persipura Sulit Mendapatkan Sponsor?
0 Response to "Punya Nama Besar, Kenapa Persipura Sulit Mendapatkan Sponsor?"
Post a Comment