Sobat Kabar timika Papua , yang semoga dalam lindungan Tuhan yang maha Esa. Kabar timika hadir untuk memberikan seputar topik dan informasi terhangat yang ada di Nusantara umumnya dan khususnya buat warga Papua dan sekitarnya. Berbagai topik dan isi kami sajikan yang mana semoga dapat memberikan pencerahan bagi semuanya. Dan jika kita lihat persoalan tantang Suku Kamoro dan Suku Amungme Tegas Minta Freeport Tutup Selamanya, yang baru-baru ini ramai dibicarakan oleh media sosial dan media masa.Kami mencoba untuk mengulasnya disini.
Yang kami harap berdasarkan fakta dan data mengenai Suku Kamoro dan Suku Amungme Tegas Minta Freeport Tutup Selamanya kita bisa mengambil poko inti persoalan yang terjadi tanpa mengedepankan emosi semata.mari kita lihat dari dua sisi yang berbeda baik itu baik dan buruknya. Dan mari kita ambil dan selesaikan dengan jalan yang bisa diterima masyarakat. Akhir-akhir ini pokok perbincangan Suku Kamoro dan Suku Amungme Tegas Minta Freeport Tutup Selamanya mulai memanas disemua kalangan. Dan kadang malah melupakan poko persoalan yang masih menjadi PR kita semua yaitu kesejahteraan masyarakat banyak.
Bumi papua tidak seperti wilaayah Jakarta yang begitu pongah dan mewah, Di bumi papua kami hidup dengan dami dan penuh dengan keharmonisan. Namun terkdang kami iri dengan kota Jakarta yang serba mewah dan mudah,kami warga papua untuk menjangkau wilayah satu dengan wilayah lain saja masih sedikit sulit belum lagi persoalan ksehatan,pendidikanya. Dan semoga dengan adanya pembangunan infrastruktur baru semuanya bisa mudah seperti Jakarta.
HarianPapua.com – Perwakilan masyarakat Suku Kamoro dan Suku Amungme di Timika meminta kepada Pemerintah Indonesia agar mengambil langkah tegas dengan menutup operasi PT Freeport Indonesia yang sudah merugikan masyarakat lingkungan sekitar tambang.
Kerugian dan dampak buruk yang dirasakan masyarakat sekitar mulai dari tempat berkebun, tempat berburu, tempat adat sampai tempat sakral Suku Kamoro dan Amungme yang telah terkontaminasi bahan-bahan kimia.
Hal itu disampaikan oleh salah satu tokoh adat Suku Kamoro, Daniel Beana, dalam pertemuan dengan perwakilan Pemerintah Pusat di Kantor Staf Presiden, Jakarta, Selasa (07/03/2017) kemarin.
“Tanah yang dapat digunakan untuk hidup sudah mengandung kimia, alam rusak, gunung berlubang. Saya tidak pernah dapat apa-apa dari Freeport, saya malah diinjak-injak. Jadi, atas nama Tuhan saya menuntut Freeport ditutup,” tegas Daniel dalam keterangan tertulis yang diperoleh HarianPapua.com.
Daniel datang ke Jakarta bersama dengan tokoh adat dan tokoh masyarakat Papua lainnya untuk menyampaikan apa yang mereka rasa selama ini. Apalagi Suku Kamoro dan Amungme merupakan masyarakat yang tinggal paling dekat dengan lokasi kerja PT Freeport Indonesia.
Permintaan Freeport untuk ditutup juga disampaikan Damaris Onawame, pemimpin perwakilan kedua suku yang bertemu Pemerintah kemarin. Ia mengungkapkan selama ini yang menjadi korban bukan karyawan Freeport, namun Suku Kamoro dan Amungme.
“Jangan hanya terpengaruh dengan PHK para karyawan, selama Freeport keruk kekayaan alam di negri kami, kita orang asli disini yang kena dampak. Maka itu, tak ada alasan lagi Freeport harus tutup selamanya,” ujar Damaris.
Petronela Baho, tokoh masyarakat Papua lainnya mengharapkan agar Pemerintah tidak terpengaruh dengan ‘ancaman’ Freeport yang main PHK karyawan karena selama ini korban sebenarnya adalah masyarakat adat secara khusus Suku Kamoro dan Suku Amungme.
Di hari yang sama kemarin, 200-an karyawan Freeport dari Timika datang dan berdemo di Jakarta menuntut Pemerintah tidak memaksa Freeport menerima Ijin Usaha Pertambangan Khusus (IUPK). Menurut mereka, IUPK sama saja dengan Pemerintah menutup mata pencaharian keluarga karyawan Freeport karena menimbulkan dampak PHK.
Suku Kamoro dan Suku Amungme Tegas Minta Freeport Tutup Selamanya
0 Response to "Suku Kamoro dan Suku Amungme Tegas Minta Freeport Tutup Selamanya"
Post a Comment