Sobat Kabar timika Papua , yang semoga dalam lindungan Tuhan yang maha Esa. Kabar timika hadir untuk memberikan seputar topik dan informasi terhangat yang ada di Nusantara umumnya dan khususnya buat warga Papua dan sekitarnya. Berbagai topik dan isi kami sajikan yang mana semoga dapat memberikan pencerahan bagi semuanya. Dan jika kita lihat persoalan tantang Dulu Phuyakha, Kenapa Sekarang Lebih Terkenal Dengan Sentani?, yang baru-baru ini ramai dibicarakan oleh media sosial dan media masa.Kami mencoba untuk mengulasnya disini.
Yang kami harap berdasarkan fakta dan data mengenai Dulu Phuyakha, Kenapa Sekarang Lebih Terkenal Dengan Sentani? kita bisa mengambil poko inti persoalan yang terjadi tanpa mengedepankan emosi semata.mari kita lihat dari dua sisi yang berbeda baik itu baik dan buruknya. Dan mari kita ambil dan selesaikan dengan jalan yang bisa diterima masyarakat. Akhir-akhir ini pokok perbincangan Dulu Phuyakha, Kenapa Sekarang Lebih Terkenal Dengan Sentani? mulai memanas disemua kalangan. Dan kadang malah melupakan poko persoalan yang masih menjadi PR kita semua yaitu kesejahteraan masyarakat banyak.
Bumi papua tidak seperti wilaayah Jakarta yang begitu pongah dan mewah, Di bumi papua kami hidup dengan dami dan penuh dengan keharmonisan. Namun terkdang kami iri dengan kota Jakarta yang serba mewah dan mudah,kami warga papua untuk menjangkau wilayah satu dengan wilayah lain saja masih sedikit sulit belum lagi persoalan ksehatan,pendidikanya. Dan semoga dengan adanya pembangunan infrastruktur baru semuanya bisa mudah seperti Jakarta.
HarianPapua.com – Jauh sebelum masa kemerdekaan, wilayah Sentani dan sekitarnya oleh masyarakat lokal disebut Phuyakha. Sebutan ini berawal ketika Sentani yang dulunya masih hutan perlahan-lahan mulai ada penghuni di akhir abad 19.
Sejumlah penduduk dari Nafri, Kayu Batu dan beberapa wilayah di dekat perbatasan RI-PNG saat itu mulai hijrah menuju Sentani dan bermukim di pinggiran-pinggiran danau. Wilayah yang tadinya kosong, tak ada penghuni, mulai terlihat ada kehidupan. Phuyakha sendiri brarti air (phu) dan jernih (yakha), atau dengan kata lain sebutan untuk Danau Sentani yang masih sangat bersih.
Sebutan ini, pada perkembangannya juga ditujukan untuk seluruh wilayah di sekitar danau Sentani yang akhirnya menjadi identitas masyarakat danau (phuyakha).
Di pinggiran Danau Sentani telah didiami lebih dari 20 kampung yang mungkin tidak terlalu asing di telinga kita seperti kampung Netar, Ifale, Hobong, Babrongko, Dondai, Yobhe, Yahim, Putali, Yoboi, Yakonde, Doyo Lama, hingga ke Sosiri.
Lalu kenapa justru Sentani, yang sebutannya lebih populer ketimbang Phuyakha sebutan aslinya?
Dituliskan dalam Buletin Dafonsoro yang terbit di sekitar tahun 1960-an, asal muasal kata Sentani mulai perkenalkan pada jaman kolonial Belanda. Masyarakat Sentani terkenal mengandalkan hasil perkebunan dan pertaniannya sebagai makanan pokok, atau orang-orang yang hidup dari hasil bertani (asal kata “tani”).
Dengan kondisi tanah yang subur di bawah kaki Gunung Cycloop, Belanda ketika itu melihat Sentani sebagai wilayah yang berpotensi untuk dijadikan pusat pertanian. Rencana ini dimaksudkan agar Sentani dapat memasok buah-buahan dan sayur-sayuran menuju Holandia (kini Jayapura). Itulah kenapa Sentani sebenarnya merupakan singkatan dari Sentral Pertanian.
Dulu Belanda juga pernah merencanakan penanaman kelapa, kopi, dan coklat dalam skala yang besar di Sentani, namun karena bencana banjir yang kerap melanda akhirnya hasil pertanian tersebut tidak maksimal. Jika ke Sentani, hasil-hasil pertanian ini masih bisa kita jumpai di beberapa tempat, tentunya dengan jumlah yang tidak terlalu banyak karena pertumbuhan alih fungsi lahan yang sangat cepat oleh pemerintah daerah.
Dulu Phuyakha, Kenapa Sekarang Lebih Terkenal Dengan Sentani?
0 Response to "Dulu Phuyakha, Kenapa Sekarang Lebih Terkenal Dengan Sentani?"
Post a Comment